공유

Bab 7

작가: Liam
Ketika ujung jarinya yang kapalan menyentuh dadaku yang lembut untuk pertama kalinya, aku merasa jiwaku seolah melayang keluar.

Itu adalah sensasi merinding yang menusuk, sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Otakku langsung terasa kosong. Sisa-sisa kewarasanku seakan hanyut tak bersisa diterjang sensasi kenikmatan yang begitu dahsyat.

Aku bagaikan seekor ikan yang terdampar, hanya bisa membuka mulut dan terengah-engah dengan napas yang memburu.

“Bu, bagian sini… basah sekali.”

Bibirny
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 13

    Mulai dari rasa sakit dan penolakan di awal, diriku perlahan mulai larut dan menyambutnya. Hingga akhirnya, aku benar-benar tersesat dalam kenikmatan dahsyat yang dia berikan.Kami melakukannya mulai dari ranjang, berpindah ke kamar mandi, hingga ke sofa ruang tamu.Seluruh ruangan dipenuhi oleh suara benturan tubuh kami, serta desahan manisku yang keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.Aku tak tahu sudah berapa kali kami melakukannya. Aku hanya tahu, saat sinar matahari keesokan harinya menerangi melalui gorden, sekujur tubuhku terasa remuk. Bahkan untuk menggerakkan satu jari saja sudah tak bertenaga.Sementara itu, Jack malah masih tampak sangat segar.Dia duduk di tepi ranjang dengan telanjang dada, menyelipkan sebatang rokok di jarinya, lalu menghembuskan asapnya dengan santai.Cahaya matahari menyinari kulit sawo matangnya, mempertegas setiap lekuk ototnya yang proposional, terlihat sangat sexy.Aku menatapnya dengan perasaan yang sulit diartikan.Jadi, apa hubungan di antara kam

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 12

    “Jadi, bagaimana pertimbanganmu?” Dia mendekatiku, napasnya yang panas menyembur ke wajahku.Aku bisa mencium aroma alkohol tipis dari tubuhnya.Dia habis minum alkohol.“Aku….”“Nggak perlu dijawab,” potongnya sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirku.“Berikan jawabanmu dengan tubuhmu saja.”Usai bicara, dia langsung menundukkan kepala dan kembali mencium bibirku dengan kasar.Ciuman kali ini terasa jauh lebih intens dan liar dibanding sebelumnya.Terbakar oleh pengaruh alkohol dan gairah yang telah tertahan selama tiga hari.Aku dibuat tak berdaya oleh ciumannya dan menyerah begitu saja.Dia menggendong tubuhku, lalu melangkah lebar menuju kamar tidurku.Kamarku sangat kecil, hanya ada sebuah ranjang dan lemari pakaian.Dia merebahkanku ke ranjang dan sosok tubuh tingginya langsung menindihku di atas.“Helen….”Dia membisikkan namaku berulang kali dengan suara yang sangat serak.Dia merobek pakaianku dengan liar, seperti seekor binatang buas yang sudah kelaparan lama.Dalam sek

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 11

    Aku bahkan mulai menggunakan jariku untuk mencari kepuasan.Namun, apapun yang kulakukan, tetap tak bisa mengisi rasa hampa itu.Hanya ada satu pikiran di dalam otakku.Aku menginginkannya.Menginginkan pria bernama Jack.Aku merasa takut dengan pikiranku sendiri.Bagaimana bisa aku menjadi begitu tak tahu malu seperti ini?Akal sehatku terus mengingatkan bahwa ini salah.Ini adalah sebuah transaksi, menjual tubuh dan rahimku sendiri.Begitu menyetujuinya, hidupku akan hancur.Aku hanya akan menjadi wanita simpanan dan alat pembuat anak bagi seorang pria kaya.Namun, sisi lain dari diriku terus berbisik menggodaku.Tapi itu total uang 100 miliar, lho!Dengan uang sebanyak itu, aku bisa memberikan kehidupan terbaik untuk ayah dan ibuku! Aku bisa keliling dunia! Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!Aku tak perlu lagi melihat raut wajah orang demi gaji bulanan yang tak seberapa itu.Apalagi….Aku juga bisa mendapatkan Jack.Meskipun hanya untuk sementara, setidaknya aku bisa melakuk

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 10

    “Bisa dibilang begitu.” Lastri mengangguk, melanjutkan, “Tapi kami nggak mencari melalui agen. Kami nggak bisa memercayai gen dan latar belakang wanita-wanita di sana."“Sementara kamu, Bu Helen adalah kandidat yang paling cocok.”“Aku?”“Iya.” Lastri menatapku, sorot matanya membawa sebuah keyakinan yang tak menerima penolakan, “Kamu masih muda, cantik, sehat, lulusan universitas ternama dan berasal dari keluarga baik-baik. Yang terpenting adalah…."Dia terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.“Jack menyukaimu.”Dua kata itu diucapkan dengan penekanan yang sangat jelas.Jantungku berdegup kencang.“Asalkan kamu setuju untuk melahirkan anak untuk Jack, setelah semuanya selesai, vila di daerah Sukajadi senilai 60 miliar akan menjadi milikmu. Selain itu, aku akan memberikan uang tunai sebesar 40 miliar lagi.”Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.“Ini sertifikat kepemilikan vila dan surat perjanjiannya, kamu bi

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 9

    Dia datang ke sini untuk melabrakku?Begitu memikirkan itu, aku ketakutan hingga kakiku melemas.“Bu… Bu Lastri, ada… ada apa kamu mencariku?” tanyaku terbata-bata.Rekan kerja dan para orang tua murid di sekitar kami mulai melemparkan tatapan penasaran ke arah kami.“Nggak nyaman bicara di sini.” Lastri melirik ke sekelilingnya, lalu dengan datar berkata, “Setelah kelasmu selesai, aku menunggumu di kafe seberang.”Usai bicara, dia berbalik dengan anggun dan pergi dengan sepatu hak tingginya.Aku membeku di tempat, merasa seluruh tenaga di tubuhku telah terkuras habis.Di sisa setengah jam kelas berikutnya, aku benar-benar tak fokus mengajar.Otakku terus-menerus memikirkan skenario terburuk. Aku harus bagaimana kalau dia memukul dan memakiku? Haruskah aku berlutut dan memohon ampun padanya?Setelah bersusah payah bertahan sampai kelas selesai, dengan perasaan campur aduk seperti seorang pidana yang berjalan menuju tempat eksekusi, aku melangkah masuk ke kafe tersebut.Lastri sudah dud

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 8

    Jack juga segera menenangkan dirinya. Dia memunggungiku, menaikkan ritsletingnya dengan santai, lalu merapikan pakaiannya kembali.Begitu dia membalikkan badan, penampilannya sudah kembali rapi dan berwibawa, seolah-olah pria bajingan yang baru saja menekanku ke cermin dan mempermainkanku sesuka hati tadi bukanlah dirinya.“Maaf,” ucapnya sambil menatapku, tanpa ada nada penyesalan sedikitpun dalam suaranya. “Sepertinya kelas kita hanya bisa sampai di sini.”Aku menggigit bibir sambil menunduk, tak berani menatapnya.Takut begitu melihatnya, aku akan langsung teringat kembali bayangan-bayangan memalukan tadi.“Pak Jack, kalau sudah nggak ada urusan, aku pamit pulang dulu.”Aku langsung mengambil tas, hanya ingin segera kabur dari tempat yang membuatku sesak napas ini.“Biar kuantar,” katanya.“Nggak perlu!” tolakku hampir berteriak.Bahkan sedetikpun, tak ingin kuhabiskan dengannya.Usai bicara, aku langsung berlari keluar dari studio tanpa menoleh ke belakang lagi.Begitu diterpa ang

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status