مشاركة

Bab 2

مؤلف: Liam
Namun, pandanganku malah terus-menerus mencuri pandang ke arahnya tanpa bisa dikendalikan.

Dia benar-benar sangat tinggi. Berdiri di antara sekumpulan wanita, sosoknya tampak sangat menonjol.

Saat melakukan gerakan, celana olahraga yang ketat memperlihatkan siluet kakinya yang panjang dan kuat, serta… tonjolan yang luar biasa di antara kedua kakinya.

Hanya dengan sekali lirik saja, aku langsung merasa pipiku membara dan hatiku luar biasa gelisah.

Ada apa dengan diriku?

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, berusaha membuang bayangan-bayangan yang tak pantas itu dari otakku.

Setelah bersusah payah bertahan, akhirnya kelas pun selesai. Para murid mulai pergi satu per satu.

Ketika aku sedang merapikan barang-barang dan bersiap untuk pulang, Jack malah menghampiriku.

“Bu Helen.”

Dia berdiri di hadapanku. Sosoknya yang tinggi besar langsung menyelimutiku sepenuhnya, menghadirkan aura intimidasi yang sangat kuat.

“Pak… pak Jack, ada apa?” tanyaku gugup sambil meremas ujung baju.

“Gerakanku jelek sekali. Bolehkah aku minta kelas privat tambahan?” Dia menatapku dengan tatapan yang tulus, lalu melanjutkan, “Sebutkan saja berapa biayanya.”

Kelas privat?

Jantungku langsung menegang.

Reaksi pertamaku adalah ingin menolaknya.

Berada dalam satu ruangan berduaan dengannya sangat berbahaya.

“Maaf, Pak Jack. Aku masih ada urusan nanti malam….”

“Setengah jam saja sudah cukup,” ujarnya memotongku dengan nada yang tak menerima penolakan.

“Istriku sangat suka menari. Aku ingin memberikan kejutan untuknya di hari ulang tahun nanti.”

Dia menyebutkan soal istrinya.

Rasa gugup dan harapan aneh yang sempat menggelitik hatiku langsung sirna, seperti disiram seember air es.

Ternyata dia sudah menikah.

Pria sehebat dia, mana mungkin masih lajang?

“Di sini saja, sekarang.” Dia menunjuk ke arah studio tari yang sudah sepi, berjanji, “Nggak akan menyita waktumu terlalu lama.”

Di luar dinding kaca studio, masih ada beberapa petugas yang sedang bersih-bersih dan lampunya pun menyala terang.

Lagipula, niatnya adalah demi memberikan kejutan untuk istrinya.

Aku benar-benar tak punya alasan untuk menolak.

“Baiklah….”

Aku menarik napas dalam-dalam, seolah baru saja mengambil keputusan yang sangat besar.

Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanyalah bagian dari pekerjaan. Aku adalah seorang guru tari profesional, tak boleh ada pikiran yang macam-macam.

Namun, aku tak menyangka bahwa waktu setengah jam ini akan menjadi sebuah siksaan manis, sekaligus menyakitkan yang tak akan pernah bisa kulupakan seumur hidup.

….

Pintu studio ditutup rapat. Alunan musik piano yang lembut mulai mengalir memenuhi ruangan yang luas itu.

Cermin besar memantulkan bayangan tubuh kami berdua.

Tubuhnya tinggi dan tegap, sementara diriku mungil dan ramping. Saat berdiri berdampingan, entah kenapa ada kesan serasi yang unik di antara kami.

“Kita mulai dari langkah dasar dansa berpasangan dulu.”

Aku berusaha keras agar terlihat profesional. Aku berjalan ke hadapannya, lalu mengulurkan tangan dan berkata, “Berikan tanganmu padaku.”

Telapak tangannya yang sangat besar dan kering memancarkan suhu tubuh yang panas menyengat.

Begitu tangan mungilku digenggam sepenuhnya, sebuah sengatan listrik yang kuat langsung menjalar dari ujung jari dan menyebar langsung ke seluruh tubuhku.

Tubuhku gemetar pelan tanpa bisa dikontrol.

Dia tampaknya menyadari hal itu. Genggamannya pada tanganku agak mengerat, lalu bertanya dengan pelan, “Bu, kamu kedinginan?”

“Nggak… nggak dingin.” Aku buru-buru menggeleng, tapi pipiku rasanya semakin panas.

“Ayo, kita mulai.” Aku pura-pura tenang dan mulai menuntun langkah dansanya.

Namun, dia benar-benar sangat kaku.

Entah menginjak kakiku atau malah menggerakkan tangan dan kaki dengan searah. Gerakannya kaku seperti robot.

“Pak Jack, tubuhmu terlalu kaku, coba lebih rileks sedikit,” ujarku sambil menghentikan gerakan dengan pasrah.

“Aku memang begini kalau gugup.” Dia tersenyum sungkan dan melanjutkan, “Apalagi di depan guru yang cantik.”

Ucapannya mengandung nada menggoda yang samar, berhasil membuat jantungku melewatkan satu detakan.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 13

    Mulai dari rasa sakit dan penolakan di awal, diriku perlahan mulai larut dan menyambutnya. Hingga akhirnya, aku benar-benar tersesat dalam kenikmatan dahsyat yang dia berikan.Kami melakukannya mulai dari ranjang, berpindah ke kamar mandi, hingga ke sofa ruang tamu.Seluruh ruangan dipenuhi oleh suara benturan tubuh kami, serta desahan manisku yang keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.Aku tak tahu sudah berapa kali kami melakukannya. Aku hanya tahu, saat sinar matahari keesokan harinya menerangi melalui gorden, sekujur tubuhku terasa remuk. Bahkan untuk menggerakkan satu jari saja sudah tak bertenaga.Sementara itu, Jack malah masih tampak sangat segar.Dia duduk di tepi ranjang dengan telanjang dada, menyelipkan sebatang rokok di jarinya, lalu menghembuskan asapnya dengan santai.Cahaya matahari menyinari kulit sawo matangnya, mempertegas setiap lekuk ototnya yang proposional, terlihat sangat sexy.Aku menatapnya dengan perasaan yang sulit diartikan.Jadi, apa hubungan di antara kam

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 12

    “Jadi, bagaimana pertimbanganmu?” Dia mendekatiku, napasnya yang panas menyembur ke wajahku.Aku bisa mencium aroma alkohol tipis dari tubuhnya.Dia habis minum alkohol.“Aku….”“Nggak perlu dijawab,” potongnya sambil menempelkan jari telunjuknya di bibirku.“Berikan jawabanmu dengan tubuhmu saja.”Usai bicara, dia langsung menundukkan kepala dan kembali mencium bibirku dengan kasar.Ciuman kali ini terasa jauh lebih intens dan liar dibanding sebelumnya.Terbakar oleh pengaruh alkohol dan gairah yang telah tertahan selama tiga hari.Aku dibuat tak berdaya oleh ciumannya dan menyerah begitu saja.Dia menggendong tubuhku, lalu melangkah lebar menuju kamar tidurku.Kamarku sangat kecil, hanya ada sebuah ranjang dan lemari pakaian.Dia merebahkanku ke ranjang dan sosok tubuh tingginya langsung menindihku di atas.“Helen….”Dia membisikkan namaku berulang kali dengan suara yang sangat serak.Dia merobek pakaianku dengan liar, seperti seekor binatang buas yang sudah kelaparan lama.Dalam sek

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 11

    Aku bahkan mulai menggunakan jariku untuk mencari kepuasan.Namun, apapun yang kulakukan, tetap tak bisa mengisi rasa hampa itu.Hanya ada satu pikiran di dalam otakku.Aku menginginkannya.Menginginkan pria bernama Jack.Aku merasa takut dengan pikiranku sendiri.Bagaimana bisa aku menjadi begitu tak tahu malu seperti ini?Akal sehatku terus mengingatkan bahwa ini salah.Ini adalah sebuah transaksi, menjual tubuh dan rahimku sendiri.Begitu menyetujuinya, hidupku akan hancur.Aku hanya akan menjadi wanita simpanan dan alat pembuat anak bagi seorang pria kaya.Namun, sisi lain dari diriku terus berbisik menggodaku.Tapi itu total uang 100 miliar, lho!Dengan uang sebanyak itu, aku bisa memberikan kehidupan terbaik untuk ayah dan ibuku! Aku bisa keliling dunia! Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan!Aku tak perlu lagi melihat raut wajah orang demi gaji bulanan yang tak seberapa itu.Apalagi….Aku juga bisa mendapatkan Jack.Meskipun hanya untuk sementara, setidaknya aku bisa melakuk

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 10

    “Bisa dibilang begitu.” Lastri mengangguk, melanjutkan, “Tapi kami nggak mencari melalui agen. Kami nggak bisa memercayai gen dan latar belakang wanita-wanita di sana."“Sementara kamu, Bu Helen adalah kandidat yang paling cocok.”“Aku?”“Iya.” Lastri menatapku, sorot matanya membawa sebuah keyakinan yang tak menerima penolakan, “Kamu masih muda, cantik, sehat, lulusan universitas ternama dan berasal dari keluarga baik-baik. Yang terpenting adalah…."Dia terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.“Jack menyukaimu.”Dua kata itu diucapkan dengan penekanan yang sangat jelas.Jantungku berdegup kencang.“Asalkan kamu setuju untuk melahirkan anak untuk Jack, setelah semuanya selesai, vila di daerah Sukajadi senilai 60 miliar akan menjadi milikmu. Selain itu, aku akan memberikan uang tunai sebesar 40 miliar lagi.”Dia mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya, lalu menyodorkannya ke hadapanku.“Ini sertifikat kepemilikan vila dan surat perjanjiannya, kamu bi

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 9

    Dia datang ke sini untuk melabrakku?Begitu memikirkan itu, aku ketakutan hingga kakiku melemas.“Bu… Bu Lastri, ada… ada apa kamu mencariku?” tanyaku terbata-bata.Rekan kerja dan para orang tua murid di sekitar kami mulai melemparkan tatapan penasaran ke arah kami.“Nggak nyaman bicara di sini.” Lastri melirik ke sekelilingnya, lalu dengan datar berkata, “Setelah kelasmu selesai, aku menunggumu di kafe seberang.”Usai bicara, dia berbalik dengan anggun dan pergi dengan sepatu hak tingginya.Aku membeku di tempat, merasa seluruh tenaga di tubuhku telah terkuras habis.Di sisa setengah jam kelas berikutnya, aku benar-benar tak fokus mengajar.Otakku terus-menerus memikirkan skenario terburuk. Aku harus bagaimana kalau dia memukul dan memakiku? Haruskah aku berlutut dan memohon ampun padanya?Setelah bersusah payah bertahan sampai kelas selesai, dengan perasaan campur aduk seperti seorang pidana yang berjalan menuju tempat eksekusi, aku melangkah masuk ke kafe tersebut.Lastri sudah dud

  • Kontrak Rahasia Guru Tari   Bab 8

    Jack juga segera menenangkan dirinya. Dia memunggungiku, menaikkan ritsletingnya dengan santai, lalu merapikan pakaiannya kembali.Begitu dia membalikkan badan, penampilannya sudah kembali rapi dan berwibawa, seolah-olah pria bajingan yang baru saja menekanku ke cermin dan mempermainkanku sesuka hati tadi bukanlah dirinya.“Maaf,” ucapnya sambil menatapku, tanpa ada nada penyesalan sedikitpun dalam suaranya. “Sepertinya kelas kita hanya bisa sampai di sini.”Aku menggigit bibir sambil menunduk, tak berani menatapnya.Takut begitu melihatnya, aku akan langsung teringat kembali bayangan-bayangan memalukan tadi.“Pak Jack, kalau sudah nggak ada urusan, aku pamit pulang dulu.”Aku langsung mengambil tas, hanya ingin segera kabur dari tempat yang membuatku sesak napas ini.“Biar kuantar,” katanya.“Nggak perlu!” tolakku hampir berteriak.Bahkan sedetikpun, tak ingin kuhabiskan dengannya.Usai bicara, aku langsung berlari keluar dari studio tanpa menoleh ke belakang lagi.Begitu diterpa ang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status