“Dedi… Sari… kenapa sampai sekarang kalian belum melakukannya?” Suara Fenina terdengar begitu dingin, tajam, dan menusuk menembus sambungan telepon yang mereka terima saat sedang berada di gudang belakang rumah yang sepi. Dedi memegang ponsel itu dengan tangan yang gemetar hebat, sementara Sari berdiri tak jauh di sampingnya, menunduk dalam menahan rasa takut yang meluap-luap memenuhi dada. Alat-alat kecil penyadap yang diselipkan Fenina saat pertemuan terakhir mereka masih tersimpan rapat di saku bagian dalam baju Dedi—belum satu pun terpasang di dinding, di balik perabotan, atau di sudut ruangan seperti yang diperintahkan wanita itu dengan tegas.“Maafkan kami, Mbak… sejujurnya kami belum menemukan waktu yang benar-benar tepat,” jawab Dedi terbata-bata, berusaha mencari alasan yang terdengar masuk akal meski sebenarnya bukan keraguan akan waktu yang mengikat tangannya, melainkan keraguan dalam hati yang semakin dalam. “Kak Lusty dan Mas Raman hampir selalu ada di dalam rumah, atau k
Last Updated : 2026-07-31 Read more