Pagi yang cerah menyelimuti pelataran gubuk tua milik Sena. Udara sejuk pegunungan bertiup perlahan, membawa aroma tanah yang menyegarkan. Dari belokan jalan setapak, tampak seorang gadis cantik berjalan canggung mendekati teras. Dia adalah Ayu. Di kedua tangannya, ia memeluk erat sebuah rantang makanan yang masih mengepulkan uap hangat.Ayu melangkah ragu, matanya melirik ke sekeliling pekarangan. Belakangan ini, hatinya selalu dibelit rasa gelisah yang tak menentu. Setiap kali berkunjung, ia hampir selalu mendapati Sena sedang dikelilingi wanita-wanita cantik dan berkelas—mulai dari Nyonya Widya, Nyonya Sarah, hingga Elsa."Sena...?" panggil Ayu pelan saat melihat sosok pemuda itu sedang duduk bersantai di bale-bale teras.Sena menoleh, lalu menyunggingkan senyum hangatnya yang khas. "Eh, Ayu. Mari, duduk di sini. Pagi-pagi begini sudah datang?"Ayu meletakkan rantang makanan di atas meja kayu, lalu duduk tepat di sebelah Sena. Namun, alih-alih tersenyum, wajah cantiknya justru
Last Updated : 2026-08-04 Read more