ANMELDENBu Mawar melangkah mendekati ranjang terapi kayu. Dengan penuh keanggunan, wanita berpengaruh itu merebahkan tubuhnya menelungkup di atas kasur empuk. Gaun sutra mewahnya sedikit tersingkap di bagian punggung atas, menyingkapkan kulit mulus nan kencang yang memancarkan aroma cendana.Sena mengatur napasnya, memusatkan Hawa Murni dari pusat dada ke kedua telapak tangannya hingga pendar keemasan hangat memancar samar dari jemarinya."Saya mulai ya, Bu Mawar. Rileks dan bernapaslah teratur," bisik Sena halus."Baik, Sena... lakukan saja," pukas Bu Mawar dengan nada bergetar gugup bercampur harap.Sena menempelkan kedua telapak tangannya di belikat belakang Bu Mawar. Sentuhan itu seketika memicu letupan energi. Aliran Hawa Murni yang hangat dan perkasa menerobos masuk melintasi pori-pori kulit punggungnya, merayap cepat menghantam penyumbatan pembuluh darah kronis di belikat dan rongga dada."Aahhh..."Desahan halus lolos dari bibir Bu Mawar. Tubuhnya mendadak lemas seketika. Sensas
Malam kian larut di kompleks perumahan dinas Rumah Sakit Pusat Kepresidenan. Suasana di sekitar kediaman Sena tampak tenang, hanya diselingi gesekan dedaunan yang ditiup angin malam. Sena baru saja selesai membersihkan diri dan mengenakan kaos polos serta celana kain santai saat ketukan halus terdengar di pintu depan.Ina, sang ART yang selalu sigap, bergegas membukakan pintu. Tak lama kemudian, gadis itu melangkah menuju ruang tengah tempat Sena sedang duduk menikmati teh hangat."Mas Sena, ada Bu Mawar di depan. Beliau membawakan hantaran camilan untuk Mas," pukas Ina dengan nada sopan dan sigap.Belum sempat Sena menjawab, sosok wanita bertubuh jenjang berkelas itu sudah melangkah masuk. Bu Mawar tampak sangat anggun dengan gaun malam berbahan sutra yang jatuh pas di lekuk tubuhnya. Aromanya yang mewah dan tegas—perpaduan wangi mawar dan kayu cendana—langsung memenuhi ruangan, membuat Sena teringat total pada keanggunan Nyonya Sarah di desa."Malam, Sena. Maaf ya kalau Mawar me
Sena melipat kedua kakinya di atas ranjang, bersila dalam posisi meditasi sempurna. Ia memejamkan mata rapat-rapt, mencoba memusatkan pikiran untuk mengamati sirkulasi Hawa Murni di dalam meridian tubuhnya.Biasanya, arus energinya terasa tenang dan stabil—terkunci rapat sejak ia mengikat ikrar batin dengan Ayu di desa. Namun malam ini, ada getaran asing yang bergejolak hebat di pusat dadanya.Pendar keemasan merembes keluar dari pori-pori kulitnya, menerangi kamar rumah dinas yang remang. Sena dapat merasakan dengan sangat jelas bagaimana energi kehidupan milik Dokter Vera yang baru saja ia sentuh meninggalkan jejak halus, menyatu, dan membuka pilar energi baru di dalam dirinya."Kenapa bisa seperti ini...?" gumam Sena pelan. Solilokui itu bergetar di keheningan malam. "Energi yang seharusnya terkunci rapat bersama Ayu... tiba-tiba merekah kembali. Sensasi ini... persis saat pertama kali aku membantu Bidan Irma."Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Apakah penyembuhan yang
Desahan lega yang lolos dari bibir Dokter Vera tadi bukanlah sekadar reaksi atas hilangnya rasa pening. Saat Hawa Murni hangat dari telapak tangan Sena meresap menembus pangkal tengkoraknya, sensasi itu meletup lembut, mengalir terus ke bawah melintasi tulang belakangnya.Aliran hangat itu meluncur deras menuju area bawah perutnya, memicu denyut halus yang begitu nikmat hingga membuat otot-otot tubuhnya lemas seketika. Sebuah sensasi asing namun sangat membuai, membuat dadanya berdesir hebat.Sena menarik pelan kedua tangannya, memutus pendar keemasan yang samar-samar menyelimuti jemarinya. Ia melangkah ke samping, menatap wanita di hadapannya dengan raut tenang."Bagaimana, Dokter Vera? Sudah enakan?" tanya Sena seraya menyodorkan segelas air hangat.Dokter Vera menarik napas panjang, mencoba menguasai degup jantungnya yang masih berdebar kambar. Sensasi nikmat di bawah perutnya bertahap surut, menyisakan kebugaran luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya."Sudah.
Sena mengambil ponsel dinas dari nampan yang disodorkan Ina, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan. Begitu mendekatkan ponsel ke telinganya, suara lembut bergetar yang sangat ia rindukan memecah keheningan ruang tengah."Sena...? Ini benar kamu, Sena?" bisik Ayu dari seberang telepon. Nada suaranya sarat akan rasa cemas yang bercampur dengan kebahagiaan luar biasa.Sena tersenyum hangat, tatapannya mendadak melunak seketika. "Iya, Ayu. Ini aku. Bagaimana kabarmu dan Ibu di desa?""Aku baik, Sena... Ibu juga baik," sahut Ayu seraya menghembuskan napas lega. Isak tangis haru terdengar tipis di balik sambungan telepon. "Tadi Mbak Irma dan Bidan Desa bantu menyambungkan telepon ini dari kantor puskesmas. Aku... aku rindu sekali padamu, Sena. Bagaimana keadaanmu di kota besar? Tugasmu lancar, kan?""Semua berjalan lancar, Yu," tutur Sena dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan. "Pasien-pasien kritis sudah berhasil distabilkan hari ini. Kamu tidak perlu cemas, ya. A
Jasmin dan Mawar yang menyadari kehadiran Dokter Vera dan Sena di teras rumah dinas mendadak menghentikan aktivitas masing-masing. Dengan langkah anggun yang serasi, kedua wanita kelas atas itu melangkah beriringan memotong rumput hijau halaman rumah, menghampiri pagar rendah yang membatasi pekarangan Sena."Dokter Vera, ini tabib sakti yang baru saja mendarat dari desa itu?" sapa Jasmin dengan suara halus, berwibawa, namun sangat menyejukkan. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat ia menatap Sena.Sena tertegun di tempatnya. Cara Jasmin memiringkan kepala dan menautkan kedua tangannya di depan gaun sungguh persis dengan pembawaan Nyonya Widya ketika pertama kali menyambut Sena di kediamannya."Benar, Bu Jasmin," jawab Dokter Vera seraya membungkuk sopan. "Ini Sena. Beliau baru saja menyelesaikan tindakan pemurnian di ICU VIP."Mawar melangkah maju setengah tindak, mengibaskan rambut bergelombangnya yang terurai indah. Matanya yang tajam dan berbinar menatap Sena dari atas ke ba







