Bau antiseptik menyengat indra penciumanku, beradu tajam dengan aroma tanah basah yang masih menempel di ujung bajuku. Di ruang belakang Sekar Florist yang remang, Maya dengan telaten menyeka luka di lututku menggunakan kapas yang telah dibasahi cairan pembersih."Mbak, napasnya diatur. Jangan ditahan," bisik Maya. Matanya tak beralih dari lukaku, menyiratkan kekhawatiran yang nyata. "Kenapa sampai harus lari-larian di makam? Kalau ada apa-apa sama Mbak, bagaimana?"Aku meringis saat kapas itu menyentuh luka robek yang cukup dalam. "Aku cuma mau tahu, May. Orang itu, dia meletakkan buketnya di makam Bunda. Dia tahu tentang aku."Maya menghentikan gerakannya sejenak, menatapku tak percaya. "Di makam? Itu bukan sekadar pelanggan misterius lagi, Mbak. Itu sudah masuk tahap stalker.""Atau mungkin dia satu-satunya orang yang peduli padaku," sahutku getir, lebih kepada diriku sendiri.Maya menghela napas, lalu membalut lututku dengan perban putih yang rapi. Ia adalah pegawai yang luar bias
Last Updated : 2026-08-04 Read more