Damar mengangguk dan mundur. Aku mencoba bangkit, namun rasa nyeri di perutku kembali menyerang. Shaka segera menahanku, matanya memerintah agar aku tetap berbaring. "Jangan bergerak, Sekar. Kamu masih butuh istirahat."Pintu terbuka. Mahesa masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya berantakan, ia masih mengenakan pakaian rumah sakit."Sekar, kamu nggak apa-apa?" Mahesa menghampiriku seolah ia tidak melihat Shaka.Aku mengangguk pelan, "Aku nggak apa-apa Esa, maafin aku ya."Mahesa menggeleng, "Aku yang seharusnya minta maaf nggak bisa jagain kamu dengan benar.""Jangan menyalahkan diri sendiri Esa, aku yang salah," bantahku. "Aku terlalu gegabah ketika mendengar Maya panik di telepon."Aku teringat Bunda, ia selalu tersenyum padaku. Siapa yang menyangka bahwa ia menyimpan rasa benci padaku dibalik senyumnya itu?"Sekar," aku merasakan tangan Mahesa mengusap air mataku.Namun tidak lama, Shaka menarik kerah baju Mahesa. Membuat lelaki itu terpaksa mundur beberapa langkah."Sudah c
Last Updated : 2026-08-20 Read more