分享

Bab 31

作者: Silver Swan
last update publish date: 2026-08-02 21:56:57

Aku terlempar keluar. Tubuhku menghantam aspal trotoar yang panas. Di depan kemegahan gerbang Adhitama Tower, aku tersungkur layaknya sampah di bawah tatapan asing orang-orang yang berlalu-lalang.

Duniaku benar-benar runtuh. Namun, yang paling menikam bukanlah kenyataan bahwa ia membuangku, melainkan betapa mudahnya Shaka menghapusku seolah-olah aku tidak pernah bernapas di sisinya selama ini.

Aspal panas yang membakar telapak tanganku tak lagi terasa perih. Rasa sakit fisik itu telah mati rasa
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 31

    Aku terlempar keluar. Tubuhku menghantam aspal trotoar yang panas. Di depan kemegahan gerbang Adhitama Tower, aku tersungkur layaknya sampah di bawah tatapan asing orang-orang yang berlalu-lalang.Duniaku benar-benar runtuh. Namun, yang paling menikam bukanlah kenyataan bahwa ia membuangku, melainkan betapa mudahnya Shaka menghapusku seolah-olah aku tidak pernah bernapas di sisinya selama ini.Aspal panas yang membakar telapak tanganku tak lagi terasa perih. Rasa sakit fisik itu telah mati rasa, kalah oleh hantaman kehampaan yang ditinggalkan Shaka di lobi tadi. Dengan sisa tenaga yang tersisa, aku berdiri. Aku menolak untuk mati atau memelas di depan monumen kekuasaan Adhitama.Jika Shaka menganggapku noda yang sudah terhapus, maka aku harus kembali ke tempat di mana noda ini pertama kali tercipta. Tempat yang paling kubenci, namun kini menjadi satu-satunya pelabuhan yang tersisa.Rumah keluarga Djayadi.***Gerbang besi hitam menjulang tinggi di hadapanku, dengan ukiran sulur-sulur

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 30

    Duniaku runtuh seiring dentuman pintu yang tertutup rapat. Keheningan yang menyusul setelahnya terasa jauh lebih mencekik daripada makian Rena. Aku merosot, membiarkan tubuhku luruh di balik pintu marmer yang dingin. Lantai ini, yang biasanya terasa mewah di bawah telapak kakiku, kini berubah menjadi hamparan es yang membekukan sisa-sisa harapanku."Nggak mungkin..." bisikku pada ruang kosong.Tanganku yang gemetar merogoh saku, mencari ponsel dengan gerakan kalap. Aku harus mendengar suaranya. Aku perlu memastikan bahwa Rena hanya membual. Shaka mungkin bisa memaksaku terkurung di sini, tapi dia tidak mungkin membuangku layaknya sampah hanya melalui selembar kertas pengosongan rumah.Aku menekan tombol panggil. Satu kali, dua kali, tiga kali.Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.Suara operator itu terdengar bagai vonis hukuman mati. Aku mencoba lagi, mengirimkan pesan singkat dengan jemari yang kaku karena air mata yang terus mengaburkan pandangan.M

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 29

    Hari-hari berikutnya di rumah atas bukit itu berubah menjadi sangkar emas yang menyesakkan. Sinar matahari yang menerobos jendela besar di ruang tengah tak lagi terasa hangat; ia hanya memperjelas debu-debu yang beterbangan tak tentu arah-sama seperti diriku yang kehilangan kompas kehidupan.Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di depan televisi, membiarkan kebisingan berita mengisi kekosongan yang ditinggalkan Shaka."Skandal Adhitama-Djayadi-Dinata: Prahara di Balik Aliansi Bisnis Terbesar Tahun Ini," tulis salah satu tajuk berita utama di kanal bisnis yang terus berulang setiap jamnya.Layar itu menampilkan foto keluarga Dinata yang sedang melakukan konferensi pers. Wajah Pak Bramantyo merah padam, menuntut pertanggungjawaban dari keluarga Djayadi-keluargaku yang mengajukan perjodohan lebih dulu-dan tentu saja, keluarga Adhitama. Keluarga Shaka, pria yang menculik tunangan seorang Mahesa Dinata.Media seolah mendapat santapan lezat. Kata-kata seperti orang ketiga, pengkhianatan

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 28

    Pagi itu, rumah di atas bukit yang biasanya sunyi mendadak terasa hidup—seperti sebuah rumah yang sebenarnya. Aroma kopi yang baru diseduh menyatu dengan wangi roti panggang yang hangat. Aku duduk di atas kitchen island, membiarkan kakiku berayun pelan saat memperhatikan Shaka yang sedang mencoba membalik telur dadar. Ia melakukannya dengan gaya berlebihan yang konyol, sengaja hanya untuk memancing tawaku.Tawa yang lolos dari tenggorokanku terasa asing namun manis. Sebuah melodi yang selama bertahun-tahun terkubur oleh rencana balas dendam yang kelam. Shaka menoleh, memperlihatkan senyum tipis yang tulus di bibirnya. Namun, tepat saat ia hendak mendaratkan kecupan di dahiku, deru mesin mobil yang berat di halaman depan memutus atmosfer hangat itu seketika.Otot-otot di rahang Shaka mengeras dalam sepersekian detik. Perubahan itu begitu drastis hingga aku bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merayap masuk, melenyapkan aroma kopi dan roti tadi.Pintu utama terbuka tanpa ketukan. S

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 27

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra tebal, menyentuh kelopak mataku hingga kesadaranku pulih sepenuhnya. Hal pertama yang kurasakan bukan lagi dinginnya pintu jati semalam, melainkan kehangatan dari lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangku.Shaka masih terlelap. Wajahnya yang biasa kaku dan penuh perhitungan kini tampak begitu tenang— terlihat muda tanpa kerutan di dahi yang biasanya muncul saat ia memikirkan strategi bisnis. Aku baru saja akan menyentuh garis rahangnya ketika ia mengerang rendah, lalu menarikku lebih rapat ke dadanya tanpa membuka mata."Jangan bergerak," bisiknya serak, suara khas bangun tidur yang begitu dalam. "Lima menit lagi.""Mas, matahari sudah tinggi," aku terkekeh pelan, merasakan gesekan kulit kami di balik selimut. "Perutku sudah mulai protes."Shaka akhirnya membuka mata, menatapku dengan binar hangat yang jauh berbeda dari singa yang semalam membawa kabur tunangan seorang Mahesa Dinata. Ia mengecup keningku lama

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 26

    Pintu ballroom yang berat itu tertutup di belakang kami dengan dentuman solid, seolah mengakhiri satu babak drama dalam hidupku. Udara malam Jakarta yang lembap dan bising langsung menyergap, namun Shaka tak memberiku waktu untuk sekadar menghirupnya. Ia menuntunku masuk ke dalam SUV hitam yang sudah menunggu dengan mesin menderu halus.Begitu pintu tertutup, supir Shaka langsung memacu kendaraan, meninggalkan kerumunan wartawan yang mulai mencium aroma skandal dari pesta pertunangan dua keluarga konglomerat ini. Mobil melesat membelah jalan tol, membawaku dan Shaka menuju kediaman di perbukitan yang tersembunyi—sebuah rumah yang kini dijaga ketat oleh belasan personel keamanan profesional."Mas, kenapa dijaga seketat ini?" tanyaku heran saat menyambut uluran tangan Shaka untuk turun dari mobil. "Rumah ini bukannya sudah cukup tersembunyi?"Shaka tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat genggamannya pada jemariku, seolah sedang memastikan bahwa aku benar-benar ada di sana, di sam

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status