Share

Bab 47

Author: Silver Swan
last update publish date: 2026-08-17 19:39:23

Pintu kamar VIP itu tertutup dengan bunyi klik yang halus setelah Bramantyo Dinata pergi. Aku masih mematung di atas sofa. Adrenalin yang berpacu membuat rasa kantukku hilang sepenuhnya, meninggalkan debar jantung yang menyakitkan di dada.

Shaka akan dikirim ke Jenewa? Dan dia sedang berusaha menghancurkan Djayadi Group sekaligus melumpuhkan Mahesa?

"Aku tahu kamu sudah bangun, Sekar."

Suara Mahesa memecah kesunyian. Lembut, namun penuh keyakinan yang mengintimidasi.

Aku membuka mata perlahan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 58

    Hari-hariku berikutnya aku lalui dalam kebahagiaan. Bumi adalah sumber kebahagiaanku saat ini. Hingga tidak terasa aku dan Bumi sudah diperbolehkan pulang."Mas, katanya ada rapat sama investor hari ini?" Aku memandang Shaka yang sedang memerintahkan asistennya untuk membawa koper berisi perlengkapan bayi dan bajuku selama di rumah sakit."Sudah aku undur." Shaka mengambil Bima dari pangkuanku."Mas, aku dan Bumi bisa pulang sendiri.""No," Shaka menggeleng. "Kalian jauh lebih penting daripada investor."Aku tertawa kecil sambil mengikuti Shaka keluar ruangan. Tangannya yang bebas menggenggam tanganku."Kamu mau tinggal di apartemen atau di rumah, Sekar?" tanya Shaka."Terserah, Mas.""Kita tinggal di rumah aja, ya.""Apa nggak jauh dari kantor, Mas?" Shaka menggeleng, "Aku sudah mengajukan cuti selama tiga bulan."Aku tertawa lagi, "Kasihan asistenmu, Mas.""Biar," Shaka ikut tertawa. "Itu sudah tugas mereka kok."Genggaman tanganku semakin erat, "Kalau Papa dan Mama bagaimana, Mas?

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 57

    Tanganku terkapar layu di atas sprei yang masih basah oleh peluh. Otot-otot di seluruh tubuhku rasanya lepas dari sendinya, meninggalkan rasa ngilu yang berdenyut dari pinggang hingga ke ujung kaki. Napasku mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat memburu oksigen di tengah pacuan rasa sakit sejam yang lalu. Di sebelah ranjang, Shaka masih berlutut. Tinggi badannya yang biasa membuat orang lain merasa kerdil kini terpangkas, membuatnya sejajar dengan kasur tempatku terbaring. Bayi kami tidur pulas di dalam sanggaan dua telapak tangannya yang lebar. Selimut kuning berpola beruang itu terangkat naik turun secara ritmis mengikuti tarikan napas halus si kecil. Jemari mungil bayi itu masih mengunci ujung kancing kemeja Shaka. Kain putih kemeja itu sudah melar ditarik oleh kekuatan kecil yang baru berusia hitungan menit. Shaka sama sekali tidak berusaha melepaskannya. Ia membiarkan benang kemejanya tegang, seolah pergerakan sekecil apa pun akan mematahkan momen langka yang sedang berp

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 56

    Satu bulan berlalu.Suara mesin detak jantung berbunyi konstan di dalam ruangan beraroma antiseptik yang tajam. Tirai putih di samping tempat tidurku sesekali berkibar pelan terkena hembusan pendingin udara.Aku berbaring pasrah di atas ranjang. Rambutku lepek menempel di dahi dan pelipis. Napasku masih terengah-engah, dada turun naik mengikuti rasa lelah yang luar biasa. Sprei di bawah tubuhku yang kuremas sepanjang beberapa jam terakhir kini kusut bergelombang.Di sisi kanan ranjang, Shaka berdiri. Kemeja putih yang ia kenakan sejak pagi tadi sudah berkerut parah, dua kancing atasnya terbuka, dan lengan bajunya tergulung tidak rapi di atas siku. Keringat mengering di leher dan dahinya. Ibu jarinya yang kasar masih terikat erat pada genggaman jemariku—bahkan bekas garis memar kemerahan akibat cengkeramanku saat puncak kontraksi tadi masih berjejak jelas di punggung tangannya."Owekkk... owekkk..."Suara tangisan melengking yang pecah di sudut ruangan memotong sunyi. Seorang perawat b

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 55

    Malam itu, Shaka pulang tepat waktu. Jam dinding baru menunjuk angka tujuh ketika suara kunci pintu berputar.Aku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen berbalik. Shaka masuk membawa dua kantong kertas berisi buah-buahan segar dan makanan hangat. Kemeja kerjanya masih rapi, meski dasinya sudah dilonggarkan. Tidak ada raut panik, tidak ada kesan pria yang baru kehilangan arah. Perusahaan rintisan yang ia bangun sendiri selama beberapa tahun terakhir memang berjalan stabil, cukup untuk menopang kehidupan kami tanpa perlu menyentuh satu sen pun uang keluarga Adhitama. Fasilitasnya boleh dicabut, tapi Shaka bukan pria tanpa persiapan.Ia meletakkan kantong kertas di meja dapur, lalu berjalan mendekatiku. Tangan hangatnya langsung mendarat di perutku yang membuncit keras, menyapa si kecil yang merespons dengan satu tendangan halus."Dia aktif malam ini," gumam Shaka. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi matanya menyimpankan lelah yang berbeda."Mas baru bertemu Papa?" tanyaku pel

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 54

    Mobil Shaka berjalan pelan meninggalkan gerbang tinggi berornamen tembaga yang tertutup rapat. Bunyi mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara di dalam kabin, membelah jalanan komplek perumahan yang sepi.Shaka tidak melepaskan genggaman tangannya. Ibu jarinya terus mengusap punggung tanganku yang masih terasa dingin. Matanya fokus menatap jalan di depan, namun rahangnya mengeras, memperlihatkan garis otot yang menegang di sepanjang pipinya."Kita tidak akan kembali ke sana lagi," bisik Shaka. Suaranya serak, memecah keheningan di antara kami.Aku hanya diam, menatap keluar jendela. Pepohonan besar di tepi jalan melintas cepat, berganti menjadi barisan toko dan gedung bertingkat. Di dalam perutku, ada gerakan kecil yang halus. Aku meletakkan tangan kiriku di atas perut, menekan kain gaun yang terlipat."Kamu lapar?" tanya Shaka tanpa menoleh.Aku menggeleng pelan. Tenggorokanku terasa kering dan penuh, seolah kata-kata Achazia masih tertahan di sana, menyumbat jalurnya udara.

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 53

    Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika mobil Shaka berhenti di depan gerbang tinggi berornamen ukiran tembaga. Rumah keluarga besar Adhitama berdiri kokoh, memancarkan kemewahan yang menekan dada. Aku meremas kain gaun hamilku yang longgar, merasakan dingin memanjat dari telapak kaki hingga ke persendian.Shaka meraih jemariku yang membeku, menggenggamnya erat sebelum keluar dan membukakan pintu. "Ada aku. Kamu cuma perlu berada di sampingku," bisiknya di dekat telingaku.Pintu kayu jati berukir dibukakan oleh seorang pelayan berseragam rapi. Di ruang tamu berlantai marmer, dua orang paruh baya sudah duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Ayah Shaka— Achazia Adhitama sedang membaca koran dengan kacamata minus bertengger di ujung hidung. Di sebelahnya, Ibu Shaka— Berliana sedang memutar-mutar cangkir porselen di tangannya."Papa, Mama," panggil Shaka, suaranya tenang namun mengunci perhatian.Achazia menurunkan korannya perlahan. Lembaran kertas tebal itu berkresek halus sebel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status