Startseite / Fantasi / Mas Yanto Kuli Idaman / Bab 36: Murka Di ujung Gang

Teilen

Bab 36: Murka Di ujung Gang

last update Veröffentlichungsdatum: 11.08.2026 20:47:31
"Heh kalian berempat! Dengar ya!" Bu Broto menggantung kalimatnya sejenak, lalu melipat kedua tangan di bawah dadanya yang busung hingga kebayanya makin mengencang. "Aku bakal laporkan kalian semua ke kantor polisi SEKARANG JUGA! Terutama kamu, Slamet! Jangan kira aku nggak tahu kebiasaan busukmu yang suka main judi, dan suka mukuli istrimu sampai hampir mati," Bu Broto menatap pria berkulit gelap itu murka.

"Jujur aja ya! Sebenarnya aku nggak gitu suka ikut campur, tapi karena yang kamu gangg
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 150

    Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 149: Hari Hari Damai

    "Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 148: Pesta Syukuran

    "Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 147: Bisikan Panas

    "Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 146: Hari-Hari Pengantin Baru

    Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 145: Ijab Kabul

    "Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status