"Kembalilah ke kamar," ucap Arya tanpa menoleh lagi. Suaranya kembali memadat, keras, dan tak tersentuh. "Malam ini penjagaan pringgitan akan dilipatgandakan. Jangan pernah berpikir untuk mencoba melangkah keluar."Aku mengepalkan tangan, menahan kepahitan yang menyumbat tenggorokan. "Kamu pikir dengan mengurungku lagi, masalah ini akan selesai, Arya? Bau darah itu tidak akan hilang cuma karena kamu menutup pintu!"Arya berhenti melangkah, tetapi tidak berbalik. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar berat membelah keheningan lorong. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang rumah ini, Sekar. Menjaga mulutmu tetap bungkam adalah satu-satunya cara agar kamu tetap bernapas esok hari.""Aku tidak butuh perlindungan semu darimu!" teriakku, suaraku bergetar oleh amarah dan ketakutan yang bercampur aduk.Pria itu hanya melangkah pergi dengan derap sepatu yang kaku, meninggalkan bau cendana yang menyisakan rasa sesak di dadaku.Aku berjal
Última atualização : 2026-08-16 Ler mais