Matahari sore merembang merah di atas langit kadipaten, memancarkan warna jingga pekat yang memantul di tiang-tiang ukir pendopo.Di hadapanku, Ayah duduk bersila di atas tikar pandan yang berserabut."Kita tidak punya pilihan lain, Sekar. Surat hutang itu... mereka akan menyita seluruh tanah, rumah, dan bahkan keselamatan adikmu jika minggu ini tidak ada pelunasan." Ucap Ayahku.Aku menelan ludah."Tapi kenapa harus Griya Tawang, Yah? Kenapa harus Raden Arya Wiratama?" Kenapa bukan menjual sisa-sisa pusaka? Kita masih punya tombak peninggalan Kakek, kan? Atau setidaknya meminta tenggat pada Adipati? Beliau kan sahabat Ayah sejak zaman perang dahulu!" Ucap Sekar.Ayah hanya diam, membuang muka tak sanggup menatap mataku.Ibu, yang sejak tadi terisak pelan di sudut ruangan dekat pintu dalam, tiba-tiba merangkak mendekatiku."Ibu mohon, Sekar... kasihanilah keluarga kita," bisik Ibu dengan suara pecah, hampir tak terdengar di antara desir angin sore yang menyelusup lewat celah je
Last Updated : 2026-07-06 Read more