MasukLangkah pertamaku melintasi ambang pintu Griya Tawang sebagai istri Raden Arya Wiratama semula kupikir hanyalah sebuah pengorbanan demi menyelamatkan keluargaku dari kehancuran. Aku bersumpah tidak akan pernah menyerahkan hatiku pada pria dingin dan kejam yang sangat kubenci itu, namun kediaman megah ini ternyata menyimpan kegelapan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar intrik politik bangsawan: bisikan misterius di lorong tersembunyi, rentetan kematian berdarah, dan peninggalan kuno yang membuktikan bahwa 'kutukan' Wiratama sebenarnya terlahir dari dosa, ambisi, serta pengkhianatan para leluhur. Di tengah pertempuran tak kasatmata demi kekuasaan yang siap memburu nyawaku kapan saja, aku justru menemukan pelindung pada sosok Arya—menyeret perasaanku ke dalam pualam cinta yang bertolak belakang dengan niat awalku.
Lihat lebih banyakMatahari sore merembang merah di atas langit kadipaten, memancarkan warna jingga pekat yang memantul di tiang-tiang ukir pendopo.
Di hadapanku, Ayah duduk bersila di atas tikar pandan yang berserabut. "Kita tidak punya pilihan lain, Sekar. Surat hutang itu... mereka akan menyita seluruh tanah, rumah, dan bahkan keselamatan adikmu jika minggu ini tidak ada pelunasan." Ucap Ayahku. Aku menelan ludah. "Tapi kenapa harus Griya Tawang, Yah? Kenapa harus Raden Arya Wiratama?" Kenapa bukan menjual sisa-sisa pusaka? Kita masih punya tombak peninggalan Kakek, kan? Atau setidaknya meminta tenggat pada Adipati? Beliau kan sahabat Ayah sejak zaman perang dahulu!" Ucap Sekar. Ayah hanya diam, membuang muka tak sanggup menatap mataku. Ibu, yang sejak tadi terisak pelan di sudut ruangan dekat pintu dalam, tiba-tiba merangkak mendekatiku. "Ibu mohon, Sekar... kasihanilah keluarga kita," bisik Ibu dengan suara pecah, hampir tak terdengar di antara desir angin sore yang menyelusup lewat celah jendela. "Ibu..." kataku menahan sesak. "Pusaka Kakekmu sudah dijual bulan lalu untuk membayar bunga, Nak! Adipati pun sudah enggan menerima Ayahmu di bangsal kencana! Beliau membuang muka, Sekar! Beliau pura-pura lupa pada jasa Ayahmu! Hanya Raden Arya yang sanggup melunasi seluruh tanggungan Ayahmu dalam semalam. Pria itu menawarkannya... tapi syaratnya hanya satu. Kamu." Ucap Ibuku. "Aku? Ibu tahu kan desas-desus tentang pria itu? Orang-orang di pasar, para abdi dalem, bahkan para pedagang dari seberang sungai... mereka semua tahu! Orang-orang bilang dia dingin, kejam, tanpa belas kasihan! Bahkan rumahnya—Griya Tawang—penuh cerita berdarah yang membuat orang merinding hanya dengan mendengar namanya! Pria itu monster, Bu!" Ucap Sekar. "Sekar! Jaga mulutmu! Kita tidak dalam posisi bisa memilih! Jangan membuat situasi ini makin keruh dengan prasangkamu!" Ucap Ayahku. "Lalu Ayah mau menjualku?!" tanyaku balik. Aku berdiri menghentakkan kaki, menatap Ayah tegak lurus, menembak langsung ke dalam matanya yang menyiratkan rasa bersalah. "Ayah mau mengorbankan anak sendiri pada pria yang bahkan tidak punya nurani demi membayar kesalahan yang tidak pernah kubuat?! Apa salahku, Yah?! Apa salahku sampai harus menanggung dosa judi dan hutang tanah ini?!" "Ini bukan soal menukarmu dengan uang, Sekar!" Ayah membentak lagi, tetapi suaranya bergetar hebat di ujung kalimat. "Pria-pria pinjaman dari wilayah timur itu bukan sekadar menagih emas! Mereka datang tadi pagi dengan keris terhunus! Mereka mengancam akan membakar kediaman kita dan membawa adikmu, Tirto, ke arena pertarungan berdarah di perbatasan! Apa kamu mau melihat adikmu mati konyol di tangan para algojo?!" Hening seketika menampar ruangan itu. Suara langkah kaki kecil terdengar ragu dari balik pintu tengah. Matanya yang bulat dan polos memandang kami bertiga bergantian dengan tatapan bingung dan ketakutan. "Mbak Sekar..." panggil Tirto lirih, suaranya nyaris terendam sepi. "Ayah sama Ibu kenapa menangis? Apa Tirto buat salah lagi? Tirto janji tidak nakal lagi, Mbak... Tirto tidak akan main tanah lagi... Jangan marah..." Dada rasa ditusuk ribuan jarum. Ibu makin terisak hebat, memeluk lututku sembari menyembunyikan wajahnya di kain jarikku. "Sekar... Ibu tahu ini tidak adil untukmu. Ibu tahu kamu membenci keputusan ini. Tapi Raden Arya sudah mengirimkan utusannya pagi tadi. Kereta kencana dari Griya Tawang akan datang menjemputmu besok malam." Besok malam. Aku menarik nafas panjang, mencoba mengisi dadaku yang terasa kempis, hampa, dan sesak. "Jadi... namaku sudah digadaikan?" tanyaku dengan nada datar, tanpa emosi yang tersisa. Ayah menunduk dalam-dalam, menempelkan dahi beliau ke lantai pandan, bahunya tergoncang hebat. "Maafkan Ayah, Sekar... Maafkan Ayah... Ayah gagal menjaga kalian... Ayah benar-benar orang tua tak berguna..." "Sudah, Yah. Jangan lagi meratap," kataku tegas, memotong tangisan Ayah yang terlambat. Aku perlahan melepaskan pegangan tangan Ibu yang lemas. "Tirto masuk ke kamar ya, Dek. Jangan takut," bisikku dengan suara selembut mungkin, mengusir kabut ketakutan dari mata mungilnya. "Tidak ada yang salah. Mbak Sekar cuma mau jalan-jalan besok. Nanti Mbak bawakan kue mangkok kesukaanmu." "Beneran, Mbak? Janji ya?" tanya Tirto polos. "Iya, Mbak janji," senyumku dipaksa mengembang. Setelah pintu tengah tertutup rapat, aku berdiri dan berbalik menatap kedua orang tuaku yang masih terpuruk di lantai seperti bangkai. "Aku akan pergi," kataku, memecah kesunyian yang berat. "Aku akan pergi ke Griya Tawang. Aku akan menyelamatkan nama keluarga ini dan memastikan Tirto tetap aman, tetap bisa tersenyum dan tumbuh dewasa tanpa disentuh oleh penagih hutang itu." Ibu mendongak dengan mata sembab dan hidung merah, tangannya terulur meraih udara. "Sekar... anakku..." "Tapi dengarkan aku baik-baik, Ayah, Ibu," potongku cepat, menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan yang tak lagi goyah. "Aku melangkah ke Griya Tawang hanya untuk membayar hutang darah keluarga ini. Jangan pernah berharap aku akan menyerahkan hatiku pada pria itu. Tidak akan pernah. Tubuhku mungkin ada di sana, tetapi jiwaku tidak akan pernah sujud pada Raden Arya Wiratama." Tanpa menunggu balasan atau ratapan selanjutnya dari mereka, aku berbalik dan melangkah keluar menuju pelataran pendopo. Angin malam yang dingin menyapu wajahku yang basah, membawa kabar buruk dari takdir yang menungguku di Griya Tawang.Derap langkah puluhan kuda perang bergemuruh hebat dari balik gerbang kayu jati utama Griya Tawang. Debu jalanan membumbung tinggi ke udara fajar yang kian panas dan menghimpit. Hawa tegang menatap maut seketika mencengkeram seluruh area pendopo, membuat puluhan tetua trah Wiratama berdiri menggigil kaku di belakang kami dengan wajah memucat pasi.Arya tidak menunjukkan sedikit pun keraguan di raut wajah tegasnya. Cengkeramannya pada jemariku kian erat, hangat, dan protektif sewaktu kami berdiri sejajar di pucuk anak tangga pualam. Di samping kami, Ki Sasongko beserta puluhan prajurit silsilah telah menghunus tombak rapat-rapat, membentuk pagar betis tegap yang siap tumpah darah demi mempertahankan kehormatan pringgitan.Brak!Pintu gerbang raksasa itu terdorong paksa dari luar hingga engsel besinya menjerit nyaring. Sepuluh prajurit berkuda berseragam hitam dengan pita merah terikat di lengan melangkah masuk membelah pelataran. Di barisan terdepan, dua pria paruh baya bertub
Empat prajurit senior silsilah dengan sigap memikul peti besi berstempel Kerajaan Belanda itu, melangkah tergesa-gesa di belakang Ki Sasongko menyusuri lorong bawah tanah yang makin terasa sempit. Asap obor meliuk-liuk liar, memantulkan bayangan panjang kami pada dinding batu yang berukirkan simbol-simbol perjanjian darah. Setiap desisan napas yang lolos dari bibirku membubung kaku di tengah hawa dingin yang menusuk tulang.Arya tidak melepaskan jemariku sedikit pun. Genggamannya begitu hangat, rapat, dan erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sejari saja, aku akan melayang lenyap ditelan kegelapan Griya Tawang yang tak bertepi."Punggungmu basah oleh keringat dingin, Arya," bisikku parau sewaktu kami menaiki anak tangga batu yang licin menembus pintu rahasia Sayap Timur.Arya menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu jati yang bergeser pelan. Pria itu berbalik lambat, menatapku dengan mata hitamnya yang dalam, pekat, dan sarat rasa posesif yang tak pernah padam. Bau c
Peti besi besar berstempel Kerajaan Belanda itu terasa amat dingin di dalam dekapan Arya. Deru napas kami yang memburu bersahut-sahutan di dalam ruang arsip batu yang makin menghimpit. Serpihan kertas silsilah trah kelima yang baru saja dirobek Arya berserakan pasrah di atas lantai pualam berdebu—sebuah simbol pembangkangan mutlak atas garis takdir tumbal yang selama ini mengikat darahku. Arya mengunci pandangannya padaku. Jemari tangannya yang bebas merayap naik, mencengkeram tengkukku dengan kehangatan posesif yang begitu pekat. "Ingat kata-kataku, Sekar," bisik Arya, suara baritonnya amat rendah, parau, dan bergetar hebat oleh tekad murni di dalam dadanya. "Begitu kita melangkah keluar membawa peti ini, kita tidak hanya menantang sisa-sisa pengikut Nyi Danumaya. Kita sedang menabuh genderang perang melawan empat trah bangsawan terkuat dan jaringan kompeni di pesisir." Aku menatap lurus ke dalam iris hitamnya yang membara. Tanpa ragu, kujangkau pergelangan tangannya y
Dada Arya yang tegap dan hangat naik turun beratur cepat di balik dekapan eratnya. Isak tangisku membasahi kemeja tipisnya, menyerap seluruh rasa syok dan kebenaran pahit yang baru saja menampar jiwaku. Namaku—garis keturunanku sendiri—ternyata tersimpul erat dalam ikatan terlarang perjanjian lima trah dan pejabat Belanda itu. Di dalam ruangan batu yang lembap dan berbau debu tua ini, seluruh bayangan masa lalu seolah runtuh, menyisakan kami berdua yang saling mendekap dalam keputusasaan yang membakar.Aku menarik kepalaku perlahan dari dada Arya, mendongak menatap rahang kaku pria itu. Air mataku masih menetes lambat membasahi pipi, namun pandanganku tak lagi dipenuhi keraguan atau ketakutan seperti saat pertama diseret ke rumah ini."Kenapa..." bisikku parau, suaraku memelan di tengah heningnya ruang arsip batu yang mencekam. "Kenapa baru sekarang kamu membeberkan ini padaku, Arya? Kenapa membiarkanku menanggung kebencian pada rumah ini sendirian?"Arya menatapku lekat-lekat. J


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak