LOGINLangkah pertamaku melintasi ambang pintu Griya Tawang sebagai istri Raden Arya Wiratama semula kupikir hanyalah sebuah pengorbanan demi menyelamatkan keluargaku dari kehancuran. Aku bersumpah tidak akan pernah menyerahkan hatiku pada pria dingin dan kejam yang sangat kubenci itu, namun kediaman megah ini ternyata menyimpan kegelapan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar intrik politik bangsawan: bisikan misterius di lorong tersembunyi, rentetan kematian berdarah, dan peninggalan kuno yang membuktikan bahwa 'kutukan' Wiratama sebenarnya terlahir dari dosa, ambisi, serta pengkhianatan para leluhur. Di tengah pertempuran tak kasatmata demi kekuasaan yang siap memburu nyawaku kapan saja, aku justru menemukan pelindung pada sosok Arya—menyeret perasaanku ke dalam pualam cinta yang bertolak belakang dengan niat awalku.
View MoreDerap langkah puluhan kuda perang bergemuruh hebat dari balik gerbang kayu jati utama Griya Tawang. Debu jalanan membumbung tinggi ke udara fajar yang kian panas dan menghimpit. Hawa tegang menatap maut seketika mencengkeram seluruh area pendopo, membuat puluhan tetua trah Wiratama berdiri menggigil kaku di belakang kami dengan wajah memucat pasi.Arya tidak menunjukkan sedikit pun keraguan di raut wajah tegasnya. Cengkeramannya pada jemariku kian erat, hangat, dan protektif sewaktu kami berdiri sejajar di pucuk anak tangga pualam. Di samping kami, Ki Sasongko beserta puluhan prajurit silsilah telah menghunus tombak rapat-rapat, membentuk pagar betis tegap yang siap tumpah darah demi mempertahankan kehormatan pringgitan.Brak!Pintu gerbang raksasa itu terdorong paksa dari luar hingga engsel besinya menjerit nyaring. Sepuluh prajurit berkuda berseragam hitam dengan pita merah terikat di lengan melangkah masuk membelah pelataran. Di barisan terdepan, dua pria paruh baya bertub
Empat prajurit senior silsilah dengan sigap memikul peti besi berstempel Kerajaan Belanda itu, melangkah tergesa-gesa di belakang Ki Sasongko menyusuri lorong bawah tanah yang makin terasa sempit. Asap obor meliuk-liuk liar, memantulkan bayangan panjang kami pada dinding batu yang berukirkan simbol-simbol perjanjian darah. Setiap desisan napas yang lolos dari bibirku membubung kaku di tengah hawa dingin yang menusuk tulang.Arya tidak melepaskan jemariku sedikit pun. Genggamannya begitu hangat, rapat, dan erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sejari saja, aku akan melayang lenyap ditelan kegelapan Griya Tawang yang tak bertepi."Punggungmu basah oleh keringat dingin, Arya," bisikku parau sewaktu kami menaiki anak tangga batu yang licin menembus pintu rahasia Sayap Timur.Arya menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu jati yang bergeser pelan. Pria itu berbalik lambat, menatapku dengan mata hitamnya yang dalam, pekat, dan sarat rasa posesif yang tak pernah padam. Bau c
Peti besi besar berstempel Kerajaan Belanda itu terasa amat dingin di dalam dekapan Arya. Deru napas kami yang memburu bersahut-sahutan di dalam ruang arsip batu yang makin menghimpit. Serpihan kertas silsilah trah kelima yang baru saja dirobek Arya berserakan pasrah di atas lantai pualam berdebu—sebuah simbol pembangkangan mutlak atas garis takdir tumbal yang selama ini mengikat darahku. Arya mengunci pandangannya padaku. Jemari tangannya yang bebas merayap naik, mencengkeram tengkukku dengan kehangatan posesif yang begitu pekat. "Ingat kata-kataku, Sekar," bisik Arya, suara baritonnya amat rendah, parau, dan bergetar hebat oleh tekad murni di dalam dadanya. "Begitu kita melangkah keluar membawa peti ini, kita tidak hanya menantang sisa-sisa pengikut Nyi Danumaya. Kita sedang menabuh genderang perang melawan empat trah bangsawan terkuat dan jaringan kompeni di pesisir." Aku menatap lurus ke dalam iris hitamnya yang membara. Tanpa ragu, kujangkau pergelangan tangannya y
Dada Arya yang tegap dan hangat naik turun beratur cepat di balik dekapan eratnya. Isak tangisku membasahi kemeja tipisnya, menyerap seluruh rasa syok dan kebenaran pahit yang baru saja menampar jiwaku. Namaku—garis keturunanku sendiri—ternyata tersimpul erat dalam ikatan terlarang perjanjian lima trah dan pejabat Belanda itu. Di dalam ruangan batu yang lembap dan berbau debu tua ini, seluruh bayangan masa lalu seolah runtuh, menyisakan kami berdua yang saling mendekap dalam keputusasaan yang membakar.Aku menarik kepalaku perlahan dari dada Arya, mendongak menatap rahang kaku pria itu. Air mataku masih menetes lambat membasahi pipi, namun pandanganku tak lagi dipenuhi keraguan atau ketakutan seperti saat pertama diseret ke rumah ini."Kenapa..." bisikku parau, suaraku memelan di tengah heningnya ruang arsip batu yang mencekam. "Kenapa baru sekarang kamu membeberkan ini padaku, Arya? Kenapa membiarkanku menanggung kebencian pada rumah ini sendirian?"Arya menatapku lekat-lekat. J












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore