Empat prajurit senior silsilah dengan sigap memikul peti besi berstempel Kerajaan Belanda itu, melangkah tergesa-gesa di belakang Ki Sasongko menyusuri lorong bawah tanah yang makin terasa sempit. Asap obor meliuk-liuk liar, memantulkan bayangan panjang kami pada dinding batu yang berukirkan simbol-simbol perjanjian darah. Setiap desisan napas yang lolos dari bibirku membubung kaku di tengah hawa dingin yang menusuk tulang.Arya tidak melepaskan jemariku sedikit pun. Genggamannya begitu hangat, rapat, dan erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sejari saja, aku akan melayang lenyap ditelan kegelapan Griya Tawang yang tak bertepi."Punggungmu basah oleh keringat dingin, Arya," bisikku parau sewaktu kami menaiki anak tangga batu yang licin menembus pintu rahasia Sayap Timur.Arya menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu jati yang bergeser pelan. Pria itu berbalik lambat, menatapku dengan mata hitamnya yang dalam, pekat, dan sarat rasa posesif yang tak pernah padam. Bau c
Última atualização : 2026-09-16 Ler mais