Gesekan lembut kain beludru dan napas kami yang memburu menjadi satu-satunya bunyi yang membelah keheningan kamar utama Griya Tawang. Di atas pembaringan tebal ini, batas antara kemurkaan masa lalu dan kepasrahan lebur sepenuhnya. Kulitku yang hangat bertaut rapat dengan dada tegap Arya yang memanas, menyalurkan getaran yang membuat kesadaranku melayang, terhanyut dalam pusaran emosi yang tak tertahankan.Jemari Arya yang besar dan kaku merayap perlahan dari pinggulku, naik menyusuri pinggang hingga menangkup pipiku dengan dominasi yang posesif. Ibu jarinya yang bernoda sisa rempah mengusap sudut bibirku yang basah oleh ciuman, sementara iris hitamnya yang membara mengunci pandanganku tanpa celah."Jangan pernah pejamkan matamu, Sekar," bisik Arya. Suara baritonnya amat rendah, parau, dan terengah-engah di atas wajahku, menyiratkan ketakutan yang mentah. "Tatap aku. Biarkan aku melihat siapa yang ada di dalam matamu saat ini. Pastikan
Última atualização : 2026-09-02 Ler mais