Langkah kaki kami membelah keheningan lorong pringgitan yang remang, menyisakan gema tipis di atas lantai kayu jati tua yang dingin. Cengkeraman Arya pada pergelangan tanganku begitu erat, menyalurkan kehangatan kaku di tengah hawa malam yang mencekam. Di balik stagenku, patrem perak terasa membebani pinggang, seolah mengingatkan bahwa malam ini adalah batas tipis antara hidup dan mati, antara pengkhianatan dan pembalasan."Pelankan langkahmu, Sekar," bisik Arya tanpa menoleh. Suara baritonnya amat rendah, menyatu dengan desir angin malam yang berhembus dari arah halaman tengah, membawa aroma wangi cendana dan kemenyan tua yang menguar dari peraduannya."Di mana para prajurit pembangkang itu sekarang?" tanyaku terengah-engah, mencoba mengimbangi langkah lebarnya yang tergesa namun terkontrol."Di dekat ambang lorong bawah tanah," jawab Arya kaku. Ia mendadak menghentikan pergerakannya, menarik tubuhku mundur dengan sigap ke balik celah pilar pualam yang besar.Hawa tubuhnya ya
Última atualização : 2026-08-25 Ler mais