Jemari Arya yang tegap dan kasar merayap naik dari pinggangku, menyusuri garis lenganku yang gemetar hebat, lalu berhenti kaku tepat di samping leherku. Ibu jarinya mengusap rahangku dengan kelembutan yang menyiksa—sebuah kontras tajam di balik dominasi mutlak, amarah masa lalu, dan keputusasaan yang membara di manik matanya."Jawab aku, Sekar..." bisik Arya, suaranya amat rendah, parau, dan bergetar hebat di depan bibirku yang berjarak seujung kuku. "Apakah kamu benar-benar sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan padaku?"Aku menatap lurus ke dalam manik matanya yang kelam, menembus bayangan trauma mendalam dan ketakutan akan kehilangan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik topeng iblis pringgitan. Dadaku naik turun teratur menghantam dadanya yang tegap, menyalurkan detak jantung kami yang berpacu liar dalam ritme yang persis sama."Aku sadar sepenuhnya, Raden Arya," suaraku parau namun tegas, tanpa sedikit pun
Última atualização : 2026-08-30 Ler mais