Kalimat itu menghantam dada Naya bagaikan godam besi. Logika dan akal sehatnya langsung lumpuh total. Racun rasa bersalah itu menyebar cepat melalui aliran darahnya. Di detik itu juga, Naya merasa dirinya adalah wanita paling kejam, paling egois, dan paling tidak tahu diuntung di muka bumi karena telah berani mengeluh pada pria yang telah mengorbankan nyawa demi dirinya. "Enggak, Mas... Ya Allah, enggak..." Naya langsung merangkak maju. Ia berlutut di lantai, memeluk pinggang Arga dengan erat, menenggelamkan wajahnya yang basah oleh air mata di perut pria itu. Tubuhnya berguncang hebat karena tangisan yang histeris. "M-maafkan aku, Mas... tolong maafkan mulutku yang jahat ini..." Naya tersedu-sedu, mencium kemeja Arga berkali-kali dengan putus asa. "Aku tidak bermaksud begitu. Aku janji tidak akan pernah mengeluh lagi! Pukul aku, Mas, hukum aku kalau aku mengeluh lagi! Aku akan temani Mas ke mana pun. Tolong, jangan bilang begitu. Maafkan Naya, Mas..." Di atas kepala Naya yang
Terakhir Diperbarui : 2026-08-25 Baca selengkapnya