Arga menunduk, mendaratkan ciuman pertama di bibir Naya—bukan ciuman paksaan yang kasar, melainkan ciuman yang lambat, basah, dan luar biasa memabukkan. Dengan wajah aslinya yang sempurna, ciuman itu terasa sepuluh kali lipat lebih berbahaya. Naya merasa seolah ia sedang disihir oleh racun manis yang mengalir perlahan di dalam aliran darahnya. Naya mengerang pelan di sela ciuman itu, tangannya yang tadi sempat gemetar ketakutan kini tanpa sadar terangkat, merayap naik dan mencengkeram bahu bidang Arga dengan erat, menarik pria itu semakin mendekat ke dalam pelukannya. Arga menyadari perubahan kecil itu. Seringai kemenangan merekah di sudut bibirnya. Ia melepaskan pautan bibir mereka, menatap manik mata Naya yang sayu, berenang dalam lautan gairah dan kepasrahan mutlak. "Pintar, Adik kecilku," puji Arga serak, mengusap rahang Naya dengan ibu jarinya. "Kamu mulai belajar cara menyerahkan diri pada takdirmu. Kamu sadar kalau melawan hanya akan membuatmu semakin tersiksa dalam api
Last Updated : 2026-08-17 Read more