Rekha mematung. Jantungnya berdebar kencang oleh rasa bahagia yang membuncah. Ia melangkah mendekat, menyerahkan buket bunga itu. "Untukmu, Sayang. Kata Bima, kamu hari ini pergi melukis di taman. Kamu senang?" tanya Rekha, mengusap puncak kepala Naya dengan sayang. Naya menerima bunga itu tanpa penolakan. Ia mencium aromanya sejenak, lalu meletakkannya di vas terdekat. "Iya, aku senang. Lukisannya belum selesai, tapi udaranya sangat segar. Terima kasih bunganya, Rekha. Ayo makan, makanannya nanti dingin." Naya menarik kursi untuk Rekha, lalu duduk di hadapannya. Ia mengambilkan nasi dan lauk dengan cekatan, melayani Rekha selayaknya seorang istri yang sempurna. Namun, tepat di detik itulah, rasa dingin yang aneh tiba-tiba merayap di tengkuk Rekha. Rekha menatap Naya yang sedang makan dengan tenang. Memang, wanita di depannya ini tidak lagi menangis. Ia tidak meronta. Ia tersenyum dan melayani Rekha. Tapi... ada sesuatu yang sangat, sangat salah. Gerakan Naya terlalu mek
Last Updated : 2026-08-21 Read more