Tak lama setelah Biru mematikan puntung rokoknya, ponsel di dalam saku jasnya berdering nyaring. Layar ponsel menunjukkan nama Elsa. Biru menarik napas panjang, menetralkan rasa gugupnya sebelum menggeser tombol hijau. "Sudah sesuai rencana?" suara Elsa terdengar tajam dan dingin dari seberang telepon. "Sudah, Elsa..." jawab Biru lirih, matanya melirik cemas ke arah pintu gudang. "Davina sudah ada di dalam. Dia tidak bisa melarikan diri." "Bagus," Elsa terkekeh pelan, sebuah nada kepuasan yang menyebalkan terpancar dari suaranya. "Kalau aku tidak bisa memiliki Trian, maka tidak ada seorang pun yang boleh memilikinya. Sekarang, aku ingin kamu bermain-main dulu dengan Davina sebelum menghabisinya." Mendengar kalimat itu, jantung Biru seketika berdegup kencang. Wajahnya pucat pasi. "Maksud kamu apa, Elsa?! Bukannya kamu cuma minta saya untuk menyekap Davina sampai pernikahan mereka batal? Kamu tidak bilang mau mencelakainya, apalagi menghabisinya!" "Oh, ayolah, Biru! Ja
Last Updated : 2026-09-05 Read more