Keesokan paginya, Trian kembali menepati janjinya. Tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit, mobil pria itu sudah terparkir rapi di depan gedung apartemen Davina. Berbeda dari hari kemarin yang sempat diwarnai rasa canggung dan panik setengah mati, kali ini Davina sudah jauh lebih siap. Ia turun dari lantai atas dengan langkah ringan, mengenakan kemeja kerja formal yang dipadu rapi, tanpa harus sembunyi-sembunyi saat masuk ke dalam mobil.Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih cair. Mereka bahkan sempat mengobrol ringan sepanjang perjalanan menuju kantor. Hanya saja, satu hal yang masih menggantung tanpa kepastian di antara keduanya, hingga detik ini, belum ada satu pun kata "suka", "cinta", atau "sayang" yang terucap dari bibir masing-masing. Entahlah, hubungan tanpa label ini harus disebut apa. Status mereka masih mengambang di awang-awang—antara atasan-bawahan, rekan rahasia, atau kekasih gelap yang jalannya penuh liku.Begitu tiba di basement gedung perkantoran, Trian menepi
Last Updated : 2026-07-25 Read more