"Ada apa, Segara?" Wira udah berdiri di depan pintu, pedang di tangan, suaranya tajam.Ratri buru-buru narik selimut, jantungnya masih berdegup kencang."Penjaga perbatasan kirim kabar semalam," Segara ngos-ngosan, jelas abis lari dari pos jaga. "Ada rombongan bersenjata nggak dikenal, keliaran deket jalur yang bakal kita lewatin buat balik ke Cakrawijaya. Belum jelas mereka siapa."Wira diem sebentar, mikir cepet. "Berapa orang?""Laporan bilang sekitar dua puluh, Jenderal. Nggak pakai lambang kerajaan mana pun.""Kalau gitu kita berangkat lebih pagi dari rencana," kata Wira, udah mulai pakai jubahnya. "Siapin rombongan. Jalur diganti, lewat yang lebih aman meski lebih jauh."Segara ngangguk cepet terus buru-buru pergi.Ratri masih duduk di ranjang, nggak ngerti separuh dari yang baru aja dia denger. "Itu... bahaya?""Mungkin cuma perampok," Wira jawab, tapi nadanya nggak sepenuhnya yakin. "Tapi lebih baik hati-hati. Kau siap-siap. Kita berangkat sejam lagi."Ratri ngangguk, meski ta
Last Updated : 2026-07-13 Read more