LOGINPagi berikutnya, Ratri bangun dengan mata bengkak. Ia bertekad meyakinkan ayahnya bahwa masih ada jalan lain.
Di lorong, ia bertemu Dyah. Adiknya menatapnya dengan mata sembap, jelas belum tidur semalaman.
"Kak Ratri," Dyah menggenggam tangannya.
"Kata orang-orang, Kakak harus—"
"Aku akan bicara sama Ayah," potong Ratri, meremas balik tangan adiknya.
"Tenang saja."
Ia menemukan ayahnya di ruang kerja, dikelilingi tumpukan catatan dan peta wilayah. Secangkir teh dingin tak tersentuh tergeletak di sudut meja.
"Ayah," Ratri masuk tanpa mengetuk. "Kita bisa cari cara lain, kan? Mengirim upeti lebih besar, atau menawarkan sesuatu selain aku."
Sang Adipati menatapnya lama, lalu menghela napas berat. "Duduklah."
Ratri duduk, menatap catatan yang tersebar di meja itu.
"Kau tahu berapa banyak nyawa yang hilang dalam perang ini?" ayahnya memulai.
"Bukan cuma prajurit. Petani yang ladangnya dibakar. Anak-anak yang kehilangan orang tua. Sekarang, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kita punya kesempatan untuk perdamaian yang nyata."
"Tapi kenapa harus dengan mengorbankan aku?"
"Karena kerajaan pemenang butuh jaminan yang tidak bisa dibatalkan begitu saja," jawab ayahnya.
"Upeti bisa berhenti dibayar. Perjanjian di atas kertas bisa dilanggar. Tapi ikatan pernikahan, itu jaminan yang mereka anggap tak bisa diingkari."
"Apa Ayah sudah coba cara lain? Menawarkan wilayah? Emas?"
"Ayah sudah kirim tiga surat balasan," sang Adipati menggeleng pelan.
"Semuanya ditolak. Mereka bilang, hanya ikatan darah bangsawan yang bisa jadi jaminan sesungguhnya."
"Lalu kenapa harus aku? Kenapa bukan sepupu jauh kita?"
"Karena mereka secara spesifik meminta putri kandung Adipati Wilatikta," jawab ayahnya getir.
"Bukan kerabat jauh. Ayah sudah coba melawan semalaman, tapi setiap penolakan dijawab ancaman terselubung soal perang yang bisa pecah lagi."
"Siapa yang menentang damai, Ayah?"
"Ayah cuma dengar satu nama. Patih Argono," kata sang Adipati.
"Katanya dia yang paling ingin Wilatikta ditaklukkan sepenuhnya, bukan sekadar didamaikan. Kau harus hati-hati begitu sampai di sana, Ratri. Jangan mudah percaya siapa pun sebelum kau benar-benar mengenalnya."
"Bagaimana kalau orang itu justru dekat dengan Jenderal Wira sendiri?"
"Ayah tidak tahu, Nak. Tapi itu sebabnya Ayah bilang, jangan mudah percaya."
Ratri menyimpan nama itu baik-baik di kepalanya.
"Apa kata mereka persis, Ayah?"
Sang Adipati menyerahkan salah satu surat balasan.
"Baca sendiri kalimat terakhirnya."
Ratri membaca cepat. Ia menemukan satu baris yang membuat perutnya mual. Jika Wilatikta menolak jaminan yang diminta, kerajaan akan menganggap gencatan senjata batal demi hukum.
Ratri terdiam. Ia tahu, kenyataannya sudah dikunci sejak surat itu tiba kemarin.
"Kalau aku menolak," katanya pelan, "apa yang akan terjadi?"
Sang Adipati berdiri, berjalan ke jendela, menatap hamparan sawah yang mulai menghijau lagi.
"Perjanjian gagal," katanya akhirnya.
"Kerajaan tidak akan berpikir dua kali menganggap itu penghinaan. Mereka bisa menyerang lagi, dan kali ini Wilatikta tidak akan sanggup bertahan. Kita kehilangan terlalu banyak prajurit terbaik di perang sebelumnya. Termasuk kakakmu sendiri."
"Kalau begitu kenapa mereka masih butuh jaminan lagi? Bukannya mereka sudah menang telak?"
"Karena kemenangan di medan perang beda dengan kestabilan di meja perundingan," jawab ayahnya.
"Ada bangsawan-bangsawan di dalam kerajaan mereka sendiri yang tidak setuju damai dengan kita."
Kata-kata itu menghantam Ratri lebih keras daripada amarah semalam.
"Ayah tahu ini tidak adil untukmu," lanjut ayahnya, suaranya bergetar. "Kalau Ayah bisa menukar posisi denganmu, Ayah akan lakukan tanpa berpikir dua kali."
Ratri menatap ayahnya, melihat sosok yang selama ini selalu tegar kini berdiri rapuh. Untuk pertama kalinya, ia sadar ayahnya bukan sedang memaksanya. Ia sedang memohon.
"Berapa lama aku punya waktu?" tanya Ratri akhirnya.
"Dua minggu," jawab sang Adipati.
"Rombongan dari kerajaan akan datang ke sini untuk meminang sekaligus menyaksikan pernikahannya. Setelah itu selesai, barulah kau diboyong ke Kerajaan Cakrawijaya bersama suamimu."
"Apa Ayah tahu seperti apa Kerajaan Cakrawijaya?"
"Ayah cuma dengar dari cerita pedagang. Besar, kaya, jauh lebih megah dari Wilatikta." Sang Adipati menatap Ratri lekat.
"Tapi kemegahan bukan jaminan kebahagiaan, Nak. Ayah harap kau tetap ingat itu."
Ratri mengangguk pelan, dadanya terasa diremas. Ia berdiri, berjalan menuju pintu.
"Aku akan pergi," katanya. "Demi Wilatikta, demi Ayah, demi Dyah. Tapi jangan harap aku akan memaafkan orang yang membuat Kakang Arya mati sia-sia. Sampai kapan pun."
Ia keluar sebelum ayahnya sempat menjawab, tapi di ambang pintu ia sempat menoleh sekali. Ayahnya sudah berdiri menghadap jendela lagi, punggungnya yang biasa tegap kini terlihat semakin kecil dari jarak itu.
Ratri buru-buru memalingkan wajah, melewati Dyah yang masih menunggu cemas di lorong.
"Kak, gimana?" Dyah menghadang langkahnya.
"Nggak ada jalan lain, Dik," jawab Ratri, mencoba tersenyum meski gagal total.
"Tapi jangan khawatir. Kakak akan baik-baik saja."
"Aku ikut Kakak nanti, ya? Ke Kerajaan Cakrawijaya?"
"Kalau Ayah izinkan, kamu boleh berkunjung kapan saja," Ratri menggenggam tangan adiknya erat.
"Kakak janji."
Dyah mengangguk, meski matanya masih berkaca-kaca.
"Kak, aku takut," bisik Dyah tiba-tiba.
"Takut Kakak sendirian di sana."
"Kakak nggak akan sendirian," Ratri berusaha meyakinkan, meski dalam hati ia sendiri tidak sepenuhnya percaya.
"Nyai Sekar ikut. Dan Kakak akan kirim surat setiap minggu, janji."
"Setiap minggu beneran?"
"Setiap minggu," Ratri mengangguk.
"Kalau Kakak lupa, kamu boleh marah sepuasnya waktu berkunjung nanti."
Dyah tertawa kecil di tengah air matanya, meski tawa itu terdengar rapuh.
Ratri melepas genggaman itu perlahan, lalu melangkah menuju kamarnya sendiri.
Di kamarnya, Ratri duduk sendirian cukup lama, menatap dua minggu ke depan seperti menatap jurang yang tak kelihatan dasarnya.
Bayangan punggung ayahnya yang membungkuk di depan jendela tadi terus terngiang, menolak pergi meski ia sudah memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, Ratri sadar, bebannya sendiri mungkin tidak seberat beban yang harus ditanggung ayahnya sepanjang sisa hidupnya.
Ia menatap langit-langit kamar lama sekali, mencoba membayangkan wajah calon suaminya, tapi yang muncul di kepalanya hanya kegelapan dan nama yang selama ini menakutkan seisi Wilatikta.
Beberapa minggu berlalu sejak selapanan Bintang, dan meski laporan-laporan dari Ki Bramantyo masih terus berdatangan tentang aktivitas mencurigakan di sekitar Sendang Rejo, kehidupan di kediaman berusaha mempertahankan ritme normalnya."Kau pikir kita harus mengunjungi Wilatikta lebih sering sekarang?" Ratri bertanya suatu malam, menggendong Bintang yang mulai bisa tersenyum, sebuah pencapaian kecil yang membuat seluruh keluarga bahagia."Aku pikir itu ide bagus," Wira mengangguk, mengamati Arya yang sedang mengajari Bintang menggenggam jarinya, meski bayi itu belum sepenuhnya mengerti. "Kita bisa merencanakan kunjungan bulan depan.""Aku akan menulis surat memberi tahu Ayah," Ratri berkata, senyum lembut menghiasi wajahnya membayangkan pertemuan berikutnya dengan keluarganya di Wilatikta.Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga, momen sederhana yang selalu Ratri hargai—Arya yang bercerita tentang harinya dengan penuh semangat, Bintang yang mulai menunjukkan kepribadia
Tiga puluh lima hari setelah kelahiran Bintang, tradisi selapanan kembali dirayakan, kali ini dengan suasana yang sedikit berbeda—penuh kebahagiaan yang sama, tapi juga kewaspadaan yang lebih tinggi menyusul laporan-laporan terbaru dari Ki Bramantyo."Kau yakin ini waktu yang tepat untuk mengadakan perayaan?" Ratri bertanya ke Wira, sedikit khawatir mengingat situasi yang masih belum jelas."Kita tidak bisa membiarkan ketakutan menghentikan kita merayakan kebahagiaan," Wira menjawab mantap. "Kita hanya perlu memastikan pengamanan ekstra selama acara berlangsung."Perayaan selapanan Bintang berlangsung di halaman kediaman, dihiasi bunga-bunga segar dan lampion kecil, meski kali ini penjaga tambahan tersebar tidak kentara di berbagai sudut untuk memastikan keamanan.Ayah Ratri, yang datang jauh-jauh dari Wilatikta bersama Dyah, langsung menghampiri cucunya yang baru dengan mata berbinar bahagia."Cucuku yang kedua!" ayahnya berseru gembira, menggendong Bintang dengan hati-hati. "Dia mir
Beberapa minggu setelah kelahiran Bintang, di tengah kebahagiaan yang masih menyelimuti kediaman, Ki Bramantyo datang dengan laporan yang lebih serius dari biasanya."Jenderal," Ki Bramantyo memulai, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak biasa. "Informan kita di Sendang Rejo melaporkan peningkatan aktivitas mencurigakan dalam beberapa minggu terakhir."Wira, yang tengah menggendong Bintang, menyerahkan bayinya pelan-pelan ke Ratri sebelum fokus penuh pada laporan itu. "Aktivitas seperti apa?""Beberapa kelompok kecil terlihat berkumpul secara rutin, jauh dari pengawasan biasa," Ki Bramantyo menjelaskan. "Kami belum bisa memastikan tujuan mereka, tapi polanya mengingatkan pada persiapan sebelum tindakan besar.""Berapa banyak orang yang terlibat?" Wira bertanya, mencoba mengukur skala ancaman itu."Sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang, tersebar di beberapa titik," Ki Bramantyo memperkirakan. "Tapi jumlah itu bisa bertambah kalau mereka berhasil merekrut lebih banyak simpati
Malam itu, tepat tiga bulan setelah pemeriksaan terakhir, Ratri terbangun karena rasa sakit yang familiar, menjalar dari perutnya ke seluruh tubuhnya."Wira," Ratri membisikkan, menggoyang pelan suaminya yang tertidur. "Sepertinya waktunya sudah tiba."Wira langsung terbangun, matanya melebar panik meski dia mencoba tetap tenang. "Kau yakin?""Aku yakin," Ratri mengangguk, meringis menahan rasa sakit yang mulai datang berirama.Kediaman segera dipenuhi kesibukan yang familiar—tabib dan Bi Rahayu bergegas datang, sementara Wira mendampingi Ratri dengan tangan yang tidak pernah lepas dari genggamannya."Kau bisa melewati ini," Wira membisikkan, mengusap keringat di dahi Ratri. "Kau sudah pernah melakukannya sebelumnya, dan kau begitu kuat.""Aku tahu," Ratri menjawab di sela napasnya yang memburu, "tapi tetap saja tidak mudah."Arya, yang terbangun karena keributan itu, dijaga oleh Dyah yang kebetulan menginap malam itu, keduanya menunggu dengan cemas di luar kamar."Ibu sakit?" Arya be
Suatu pagi, Dyah datang berkunjung dengan wajah yang berbinar penuh kegembiraan, hampir tidak sabar menunggu sampai dia duduk sebelum mengumumkan kabarnya."Kak Ratri!" Dyah berseru, langsung memeluk kakaknya erat. "Aku hamil!"Ratri, yang kaget sekaligus bahagia, langsung memeluk balik adiknya dengan mata berkaca-kaca. "Sungguh? Kapan kau tahu?""Baru kemarin," Dyah mengaku, masih tidak bisa menahan senyumnya. "Arka bahkan sampai menangis saking bahagianya.""Aku sangat senang untukmu, Dik," Ratri berkata tulus, mengelus perutnya sendiri yang sudah cukup besar. "Sekarang kita akan hamil berbarengan, meski beda beberapa bulan.""Aku tidak sabar!" Dyah berkata semangat. "Anak-anak kita akan tumbuh besar bersama, seperti sepupu sungguhan."Wira, yang mendengar kabar itu dari ruang kerja, ikut keluar dengan senyum lebar. "Selamat, Dyah. Aku senang sekali untuk kalian berdua.""Terima kasih, Kak Wira," Dyah berkata, memeluknya juga. "Ini semua berkat dukungan kalian juga, membantu kami me
Dengan perkiraan tiga bulan menuju kelahiran, Ratri dan Wira mulai mempersiapkan kamar bayi kedua, kali ini di sebelah kamar Arya, biar kakak-adik bisa saling dekat."Warna apa yang kau mau?" Wira nanya, natap dinding kosong yang siap dicat."Aku pikir hijau lembut," Ratri mengusulkan. "Netral, tapi tetap hangat.""Aku suka itu," Wira mengangguk setuju.Arya, yang ikut membantu meski lebih banyak mengganggu daripada membantu, sibuk memilih mainan-mainan lama miliknya yang ingin dia berikan ke adiknya."Ini buat adik," Arya berkata bangga, menunjukkan beberapa mainan kayu yang mulai using tapi masih dalam kondisi baik."Itu manis banget, Nak," Ratri berkata terharu, mengecup kepala anaknya. "Adikmu bakal senang banget."Selama beberapa minggu berikutnya, kamar itu perlahan terbentuk—dinding hijau lembut, ranjang bayi kedua yang lagi-lagi diukir sendiri oleh Wira, dan berbagai hiasan kecil yang disumbangkan oleh seluruh keluarga besar.Ratu Ibunda Suri, yang datang berkunjung suatu sore







