LOGINHalo, pembaca-pembaca tersayang!
Makasih banyak ya udah nyempetin waktu buat baca karya pertamaku di GoodNovel
"Jenderal Tiran itu Suamiku" sampai sejauh ini. Jujur, tiap kali liat ada yang baca, vote, atau sekadar mampir, tuh rasanya kayak dapet suntikan semangat buat lanjut nulis bab berikutnya. Jadi beneran, makasih banget 🥹
Buat yang baru gabung: ini cerita tentang Ratri, putri bangsawan yang dipaksa nikah sama jenderal perang yang (katanya) dia benci setengah mati—tapi ternyata hidup nggak sesimpel itu, kan? Ada drama, ada bucin-bucinan garing, ada juga intrik istana yang bikin deg-degan. Aku usahain tiap bab selalu ada sesuatu yang bikin kalian penasaran sama bab selanjutnya, jadi maaf kalau suka nge-gantung di bagian paling seru 😅
Tenang aja, ke depannya bakal lebih banyak momen manis Wira-Ratri lagi, plus geregetan-nya Segara sama Nyai Sekar yang jujur aku sendiri paling gemes nulisnya. Jadi kalau kalian tim slow burn kayak aku, sabar ya, momennya bakal dikasih pelan-pelan biar makin berasa manisnya pas nyampe di sana.
Kalau ada yang mau ngobrol, kasih masukan, atau sekadar teriak-teriak soal teori kalian di kolom komentar—monggo banget! Aku baca semuanya kok, pasti aku respon 🙏
Terakhir, buat yang udah nemenin dari bab 1, atau yang baru nemu cerita ini kemarin sore—makasih udah mau kasih waktu kalian buat Ratri dan Wira. Semoga sama sukanya kayak aku suka nulisnya.
Sampai ketemu di bab depan! 🤍
— Helda
Beberapa minggu setelah bulan madu, Ratri mulai ngerasa ada yang beda sama dirinya sendiri—badannya gampang capek, dan beberapa makanan yang dulu dia suka sekarang malah bikin dia mual."Kau nggak apa-apa?" Nyai Sekar nanya, natap Ratri yang keliatan pucat pagi itu di ruang makan."Aku cuma kurang enak badan," Ratri ngaku, ngedorong piringnya menjauh. "Nggak nafsu makan.""Ini udah tiga hari kau kayak gini," Nyai Sekar ngomong khawatir. "Mungkin kau harus periksa ke tabib."
Begitu Ratri dan Wira balik ke istana, mereka disambut Dyah yang lari-lari kecil penuh semangat, diikuti Nyai Sekar dan Segara yang baru aja balik dari bulan madu singkat mereka sendiri ke kampung halaman Segara. Sore itu, kediaman terasa lebih hidup dari biasanya, penuh suara tawa dan obrolan dari orang-orang yang udah lama nggak berkumpul lengkap."Kak Ratri!" Dyah meluk kakaknya erat. "Gimana bulan madunya? Ke mana aja?""Rahasia," Ratri godain, ngutip kata-kata Wira waktu pertama kali ngajak dia pergi."Kak Ratri!" Dyah protes, ngerengut manja.Nyai Sekar ketawa ngeliat interaksi itu. "Biarin aja, Dyah. Nanti juga cerita sendiri kalau udah siap."Mereka semua berkumpul di ruang makan buat makan malam bareng, obrolan mengalir hangat dengan cerita-cerita dari kedua pasangan yang baru aja lewatin hari-hari pertama pernikahan mereka."Kampung halaman Segara gimana?" Ratri nanya ke Nyai Sekar, penasaran."Indah banget," Nyai S
"Aku punya kejutan," Wira ngomong suatu pagi, matanya berbinar jahil. "Kita bakal pergi beberapa hari.""Ke mana?" Ratri nanya penasaran, natap Wira yang udah nyiapin dua kuda di halaman."Rahasia," Wira jawab, senyum misterius yang bikin Ratri makin penasaran."Kau tau aku benci ditutup-tutupin," Ratri protes manja, meski matanya berbinar excited."Justru karena itu makin seru," Wira bales, ngebantu Ratri naik kuda.Mereka berangkat siang itu, cuma ditemenin beberapa penjaga terpercaya, menuju arah yang nggak pernah Ratri lewatin sebelumnya. Perjalanan berkuda itu makan waktu setengah hari, ngelewatin hutan kecil dan perbukitan hijau yang indah. Sepanjang jalan, Wira nunjuk-nunjuk beberapa tempat yang punya cerita, kayak batu besar tempat dia dulu latihan panah waktu kecil, atau pohon tua yang jadi tempat favoritnya buat mikir sendirian."Kau banyak banget kenangan di jalur ini," Ratri komentar, natap sekeliling dengan pena
Tiga hari setelah pernikahan, di tengah suasana bulan madu yang tenang, sepucuk surat dateng dari tim pengamat yang dikirim Ki Bramantyo ke Desa Ujung Batu. Pagi itu Ratri dan Wira baru aja selesai sarapan santai di beranda, menikmati udara pagi yang sejuk sebelum kabar itu mengganggu ketenangan mereka. Kupu-kupu kuning masih beterbangan di sekitar bunga-bunga di taman, saksi bisu betapa damainya pagi itu sebelum kertas surat itu dibuka.Wira baca surat itu di ruang kerjanya sambil Ratri duduk di sampingnya, masih dalam suasana hati yang ringan dan bahagia dari hari-hari pertama pernikahan mereka. Dia merhatiin alis Wira yang perlahan mengernyit, tanda bahwa isi surat itu nggak sesederhana yang mereka harapkan."Apa isinya?" Ratri nanya, natap wajah Wira yang keliatan serius."Tim kita berhasil nemuin desa itu," Wira ngasih tau, "tapi begitu mereka sampai, desa itu udah kosong. Kayaknya penduduknya udah pindah beberapa minggu lalu.
Jamuan pernikahan akhirnya usai menjelang tengah malam, tamu-tamu terakhir pamit satu per satu dengan wajah masih penuh kebahagiaan dari perayaan yang begitu meriah. Dyah sempat meluk Ratri sekali lagi sebelum pamit ke kamarnya sendiri, mata berbinar jahil tapi cukup bijak buat nggak ngomong apa-apa yang bikin malu.Ratri dan Wira jalan bareng menuju kamar mereka, tangan bertautan, langkah mereka pelan-pelan, seolah pengen memperpanjang setiap detik malam ini. Lorong-lorong istana yang biasanya ramai sekarang sepi, cuma diterangi lentera-lentera kecil yang menciptakan suasana hangat dan intim.Begitu pintu kamar tertutup di belakang mereka, keheningan yang berbeda langsung menyelimuti ruangan itu—bukan keheningan canggung kayak malam pertama mereka dulu, tapi keheningan yang penuh dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih menegangkan dengan cara yang manis.Lilin-lilin kecil menyala di sekeliling kamar, cahayanya lembut memantul di kulit Ratri yang masih berhias sisa riasan pengantin. Wi
Pagi hari pernikahan, Cakrawijaya bangun dengan langit cerah tanpa awan sedikit pun, seolah alam sendiri ikut merestui hari besar itu. Burung-burung berkicau riang di taman kediaman, dan seluruh istana udah sibuk sejak subuh mempersiapkan segala detail terakhir.Ratri berdiri di depan cermin, natap pantulan dirinya dalam balutan gaun biru tua bersulam benang perak yang akhirnya sempurna, jauh lebih indah dari yang pernah dia bayangkan. Kalung melati dari Arya, gelang perak dari Wira, dan anting pemberian Ratu Ibunda Suri melengkapi penampilannya, setiap benda membawa cerita dan cinta dari orang-orang yang udah membentuk perjalanannya sampai ke titik ini.







