หน้าหลัก / Romansa / Jenderal Tiran Itu Suamiku / BAB 3 — Rombongan dari Kerajaan

แชร์

BAB 3 — Rombongan dari Kerajaan

ผู้เขียน: Helda
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 09:57:33

"Gusti Putri, lihat itu," dayang di sampingnya berbisik takjub. 

"Bendera-benderanya bersulam benang emas asli."

Ratri berdiri di balik tirai jendela, menatap debu yang mengepul di ujung jalan menuju gerbang Wilatikta.

 Semalaman ia membayangkan calon suaminya sebagai jenderal tua, berwajah keras, mungkin sudah beristri lebih dari satu.

Debu itu perlahan berubah jadi bentuk. 

Kuda-kuda hitam berhias sutra merah dan emas. Kereta kayu berukir naga.

 Barisan prajurit berzirah berkilau tertimpa matahari.

Ratri menatap satu sosok di barisan paling depan.

 Seorang lelaki menunggangi kuda putih, mengenakan jubah perang hitam sederhana. Wajahnya tegas, posturnya tegap.

 Jauh dari bayangan lelaki tua yang semalaman ia siapkan.

Pria itu masih muda. Mungkin tak lebih dari sepuluh tahun di atas usianya sendiri.

"Bukannya kata orang jenderal itu sudah tua, Gusti?" bisik dayang di sampingnya.

Ratri tidak menjawab. Bayangannya semalaman runtuh seketika, dan entah kenapa itu justru membuatnya semakin gelisah, bukannya lega.

Di pendopo utama, kesibukan sudah dimulai sejak subuh. 

Rombongan berhenti tepat di depan tangga. 

Seorang lelaki berjubah biru tua melangkah maju, membungkuk dengan gerakan yang terlalu sempurna untuk terasa tulus.

"Kanjeng Adipati Wilatikta," katanya formal.

 "Saya Patih Argono, mewakili Kerajaan dan Jenderal Wira Danurdana. Kami membawa seserahan pinangan sebagai simbol perjanjian damai yang telah disepakati."

Di belakangnya, puluhan prajurit mengangkut peti-peti berukir emas. Kain sutra, perhiasan permata, keris pusaka bersarung emas. 

Ada pula gading berukir dan porselen halus yang konon didatangkan dari pedagang asing di pelabuhan utara.

 Rakyat yang berkerumun di luar gerbang bergumam kagum, meski beberapa di antaranya juga berbisik cemas.

Wira turun dari kudanya terakhir, melangkah tenang menuju sang Adipati.

"Kadipaten Wilatikta menyambut baik kedatangan rombongan," ucap ayah Ratri, tegas meski Ratri tahu betapa berat hatinya mengucapkan kalimat itu.

Dari balik tirai, Ratri memperhatikan wajah ayahnya yang berusaha tenang di depan tamu-tamu penting itu, meski Ratri tahu persis betapa lelahnya lelaki itu setelah dua minggu penuh perundingan dan kekhawatiran.

Setelah upacara penyambutan, seluruh kadipaten berubah jadi lautan kesibukan. Halaman utama disulap penuh panggung kecil untuk tari penyambutan, dapur besar mengepulkan asap dari puluhan tungku, dan setiap sudut istana dihias ulang dengan kain sutra sumbangan dari rombongan kerajaan.

Ratri, sesuai adat pingitan, tidak diperbolehkan keluar dari sayap timur istana. Ia sama sekali dilarang bertemu calon suaminya sebelum akad.

Ia diukur berkali-kali untuk kebaya pengantin, sementara dari kejauhan ia mendengar riuhnya persiapan yang sama sekali tak melibatkannya secara langsung.

Sore itu, di sela lelahnya dirias seharian, Ratri diam-diam menyelinap ke taman kecil di belakang sayap timur. 

Ia belum tahu taman itu bersebelahan langsung dengan halaman latihan sementara para prajurit kerajaan.

Ratri baru saja duduk di bangku batu, melepas sanggul berat yang sejak pagi menekan kepalanya, ketika suara langkah kaki membuatnya menoleh cepat.

 Di seberang pagar rendah pembatas taman, seorang lelaki berdiri. Jubah perangnya sudah dilepas, hanya mengenakan baju dalam putih.

Mata mereka bertemu.

Ratri membeku. Ia tahu persis siapa pria itu. Wajah yang sama yang ia lihat dari kejauhan pagi tadi, kini hanya berjarak beberapa langkah.

Wira sama terkejutnya.

 "Aku tidak menyangka akan menemukan siapa pun di sini," katanya, buru-buru membalikkan badan.

"Aku juga nggak seharusnya di sini," Ratri tergagap, menutupi rambutnya yang berantakan dengan kedua tangan.

"Anggap saja aku tidak melihat apa-apa," kata Wira, memberi Ratri privasi.

"Anggap saja Tuan juga nggak lihat apa-apa," Ratri berkata cepat.

"Kalau begitu kita sepakat," balas Wira. 

Untuk sepersekian detik, Ratri menangkap sesuatu yang aneh di sudut bibirnya. Hampir seperti senyum.

"Tuan biasanya latihan di sini?" tanya Ratri, entah kenapa masih ingin mengulur waktu meski tahu ia seharusnya segera pergi.

"Kadang-kadang. Kalau butuh tempat sepi untuk berpikir." Wira menjawab tanpa menoleh penuh.

 "Sekarang sepertinya tempat ini tidak sepi lagi."

Dari kejauhan, suara Nyai Sekar memanggil-manggil namanya, mencarinya panik ke seluruh sayap timur.

"Aku harus pergi," Ratri buru-buru melangkah mundur, hampir tersandung ujung kainnya sendiri.

"Gusti Putri." Suara Wira menghentikannya sejenak. Ratri menoleh, mendapati pria itu masih membelakanginya, sopan sampai akhir. 

"Dua minggu lagi. Semoga kita bisa mulai dengan lebih baik dari ini."

Ratri tidak sempat menjawab. Ia buru-buru berlari kecil kembali ke kamarnya, jantungnya berdebar aneh sepanjang jalan.

"Dari mana saja, Gusti?" tanya Nyai Sekar begitu melihatnya, panik campur lega. 

"Nyai kira Gusti diculik."

"Cuma jalan-jalan sebentar, Nyai," jawab Ratri, buru-buru merapikan rambutnya sendiri.

"Jalan-jalan sampai sanggul berantakan begini?" Nyai Sekar menatapnya curiga, tapi tidak bertanya lebih jauh. 

Ia hanya membantu merapikan sanggul Ratri yang berantakan, sesekali melirik wajah Ratri yang masih memerah entah kenapa.

"Kalau Gusti ketemu sesuatu yang menarik di luar sana, boleh dong cerita ke Nyai," goda Nyai Sekar sambil menyisir rambut Ratri.

"Nggak ada apa-apa, Nyai," Ratri buru-buru menjawab, terlalu cepat untuk terdengar meyakinkan.

Malam itu, saat Nyai Sekar sudah undur diri, Ratri masih terjaga, menahan senyum kecil yang terus muncul tanpa diminta. Ia buru-buru menghapusnya begitu sadar apa yang sedang ia lakukan.

Kenapa harus senyum, kalau ini bukan hari yang aku inginkan?

Ratri berbaring, menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat kembali detail wajah Wira yang baru saja ia lihat dari dekat. Bukan wajah jenderal kejam yang selama ini ia bayangkan, melainkan wajah seseorang yang tampak sama gugupnya dengan dirinya sendiri.

Ia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran itu. 

Dua minggu lagi ia akan menikahi pria itu bukan karena cinta, melainkan karena keharusan. Tak ada gunanya membiarkan hati kecilnya berharap lebih dari itu.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak kabar pernikahan ini datang, Ratri tertidur tanpa air mata.

Ia bermimpi tentang taman kecil di belakang sayap timur, tentang sepasang mata yang menatapnya sebelum buru-buru berpaling sopan, dan tentang sebuah pertanyaan kecil yang terus mengganggunya bahkan dalam tidur: bagaimana jika jenderal yang selama ini ia takuti, ternyata bukan orang yang sepenuhnya pantas ia benci?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jenderal Tiran Itu Suamiku   BAB 115 — Sebelum Badai

    Beberapa minggu berlalu sejak selapanan Bintang, dan meski laporan-laporan dari Ki Bramantyo masih terus berdatangan tentang aktivitas mencurigakan di sekitar Sendang Rejo, kehidupan di kediaman berusaha mempertahankan ritme normalnya."Kau pikir kita harus mengunjungi Wilatikta lebih sering sekarang?" Ratri bertanya suatu malam, menggendong Bintang yang mulai bisa tersenyum, sebuah pencapaian kecil yang membuat seluruh keluarga bahagia."Aku pikir itu ide bagus," Wira mengangguk, mengamati Arya yang sedang mengajari Bintang menggenggam jarinya, meski bayi itu belum sepenuhnya mengerti. "Kita bisa merencanakan kunjungan bulan depan.""Aku akan menulis surat memberi tahu Ayah," Ratri berkata, senyum lembut menghiasi wajahnya membayangkan pertemuan berikutnya dengan keluarganya di Wilatikta.Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga, momen sederhana yang selalu Ratri hargai—Arya yang bercerita tentang harinya dengan penuh semangat, Bintang yang mulai menunjukkan kepribadia

  • Jenderal Tiran Itu Suamiku   BAB 114 — Selapanan Bintang

    Tiga puluh lima hari setelah kelahiran Bintang, tradisi selapanan kembali dirayakan, kali ini dengan suasana yang sedikit berbeda—penuh kebahagiaan yang sama, tapi juga kewaspadaan yang lebih tinggi menyusul laporan-laporan terbaru dari Ki Bramantyo."Kau yakin ini waktu yang tepat untuk mengadakan perayaan?" Ratri bertanya ke Wira, sedikit khawatir mengingat situasi yang masih belum jelas."Kita tidak bisa membiarkan ketakutan menghentikan kita merayakan kebahagiaan," Wira menjawab mantap. "Kita hanya perlu memastikan pengamanan ekstra selama acara berlangsung."Perayaan selapanan Bintang berlangsung di halaman kediaman, dihiasi bunga-bunga segar dan lampion kecil, meski kali ini penjaga tambahan tersebar tidak kentara di berbagai sudut untuk memastikan keamanan.Ayah Ratri, yang datang jauh-jauh dari Wilatikta bersama Dyah, langsung menghampiri cucunya yang baru dengan mata berbinar bahagia."Cucuku yang kedua!" ayahnya berseru gembira, menggendong Bintang dengan hati-hati. "Dia mir

  • Jenderal Tiran Itu Suamiku   BAB 113 — Sinyal dari Timur

    Beberapa minggu setelah kelahiran Bintang, di tengah kebahagiaan yang masih menyelimuti kediaman, Ki Bramantyo datang dengan laporan yang lebih serius dari biasanya."Jenderal," Ki Bramantyo memulai, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak biasa. "Informan kita di Sendang Rejo melaporkan peningkatan aktivitas mencurigakan dalam beberapa minggu terakhir."Wira, yang tengah menggendong Bintang, menyerahkan bayinya pelan-pelan ke Ratri sebelum fokus penuh pada laporan itu. "Aktivitas seperti apa?""Beberapa kelompok kecil terlihat berkumpul secara rutin, jauh dari pengawasan biasa," Ki Bramantyo menjelaskan. "Kami belum bisa memastikan tujuan mereka, tapi polanya mengingatkan pada persiapan sebelum tindakan besar.""Berapa banyak orang yang terlibat?" Wira bertanya, mencoba mengukur skala ancaman itu."Sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang, tersebar di beberapa titik," Ki Bramantyo memperkirakan. "Tapi jumlah itu bisa bertambah kalau mereka berhasil merekrut lebih banyak simpati

  • Jenderal Tiran Itu Suamiku   BAB 112 — Suara Tangisan Kedua

    Malam itu, tepat tiga bulan setelah pemeriksaan terakhir, Ratri terbangun karena rasa sakit yang familiar, menjalar dari perutnya ke seluruh tubuhnya."Wira," Ratri membisikkan, menggoyang pelan suaminya yang tertidur. "Sepertinya waktunya sudah tiba."Wira langsung terbangun, matanya melebar panik meski dia mencoba tetap tenang. "Kau yakin?""Aku yakin," Ratri mengangguk, meringis menahan rasa sakit yang mulai datang berirama.Kediaman segera dipenuhi kesibukan yang familiar—tabib dan Bi Rahayu bergegas datang, sementara Wira mendampingi Ratri dengan tangan yang tidak pernah lepas dari genggamannya."Kau bisa melewati ini," Wira membisikkan, mengusap keringat di dahi Ratri. "Kau sudah pernah melakukannya sebelumnya, dan kau begitu kuat.""Aku tahu," Ratri menjawab di sela napasnya yang memburu, "tapi tetap saja tidak mudah."Arya, yang terbangun karena keributan itu, dijaga oleh Dyah yang kebetulan menginap malam itu, keduanya menunggu dengan cemas di luar kamar."Ibu sakit?" Arya be

  • Jenderal Tiran Itu Suamiku   BAB 111 — Kabar dari Rumah Kecil

    Suatu pagi, Dyah datang berkunjung dengan wajah yang berbinar penuh kegembiraan, hampir tidak sabar menunggu sampai dia duduk sebelum mengumumkan kabarnya."Kak Ratri!" Dyah berseru, langsung memeluk kakaknya erat. "Aku hamil!"Ratri, yang kaget sekaligus bahagia, langsung memeluk balik adiknya dengan mata berkaca-kaca. "Sungguh? Kapan kau tahu?""Baru kemarin," Dyah mengaku, masih tidak bisa menahan senyumnya. "Arka bahkan sampai menangis saking bahagianya.""Aku sangat senang untukmu, Dik," Ratri berkata tulus, mengelus perutnya sendiri yang sudah cukup besar. "Sekarang kita akan hamil berbarengan, meski beda beberapa bulan.""Aku tidak sabar!" Dyah berkata semangat. "Anak-anak kita akan tumbuh besar bersama, seperti sepupu sungguhan."Wira, yang mendengar kabar itu dari ruang kerja, ikut keluar dengan senyum lebar. "Selamat, Dyah. Aku senang sekali untuk kalian berdua.""Terima kasih, Kak Wira," Dyah berkata, memeluknya juga. "Ini semua berkat dukungan kalian juga, membantu kami me

  • Jenderal Tiran Itu Suamiku   BAB 110 — Kamar Kecil yang Kedua

    Dengan perkiraan tiga bulan menuju kelahiran, Ratri dan Wira mulai mempersiapkan kamar bayi kedua, kali ini di sebelah kamar Arya, biar kakak-adik bisa saling dekat."Warna apa yang kau mau?" Wira nanya, natap dinding kosong yang siap dicat."Aku pikir hijau lembut," Ratri mengusulkan. "Netral, tapi tetap hangat.""Aku suka itu," Wira mengangguk setuju.Arya, yang ikut membantu meski lebih banyak mengganggu daripada membantu, sibuk memilih mainan-mainan lama miliknya yang ingin dia berikan ke adiknya."Ini buat adik," Arya berkata bangga, menunjukkan beberapa mainan kayu yang mulai using tapi masih dalam kondisi baik."Itu manis banget, Nak," Ratri berkata terharu, mengecup kepala anaknya. "Adikmu bakal senang banget."Selama beberapa minggu berikutnya, kamar itu perlahan terbentuk—dinding hijau lembut, ranjang bayi kedua yang lagi-lagi diukir sendiri oleh Wira, dan berbagai hiasan kecil yang disumbangkan oleh seluruh keluarga besar.Ratu Ibunda Suri, yang datang berkunjung suatu sore

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status