Malam itu, setelah Arya tidur, Ratri, Wira, dan Ki Bramantyo duduk berkumpul di ruang kerja, lilin-lilin menyala redup, suasana berat menggantung di udara."Aku bakal cerita dari awal," Wira mulai, suaranya berat, tangannya sedikit gemeteran. "Malam itu, pasukanku ngepung posisi terakhir pertahanan Wilatikta. Kakangmu, Arya, ada di garis depan, melindungi anak buahnya sampai akhir."Ratri diem, mendengarkan dengan napas tertahan."Aku kagum sama caranya bertahan," Wira ngelanjut, matanya menerawang mengenang. "Dia nggak nyerah, bahkan waktu udah jelas mereka kalah. Aku ngasih perintah tegas—tangkap dia hidup-hidup. Aku nggak mau dia mati sia-sia di medan perang, apalagi setelah liat keberaniannya.""Jadi dia ditangkap," Ratri ngomong pelan, suaranya bergetar."Iya," Wira ngangguk. "Dan dia diperlakukan dengan hormat, sesuai statusnya sebagai tahanan perang. Aku bahkan sempet ngobrol sama dia sekali, sebelum semuanya terjadi.""Ngobrol soal apa?" Ratri nanya, penasaran.Wira diem sesa
최신 업데이트 : 2026-08-03 더 보기