"Daniel, bagaimana kalau rencana ini justru menghancurkan kita berdua nanti?" bisik Renata.Suara Renata bergetar halus di tengah heningnya kabin mobil yang terasa makin sempit.Melihat wajah Renata yang diliputi keraguan dan beban pikiran yang berat, Daniel mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Renata untuk menenangkan wanita itu."Hentikan pikiran burukmu itu, Renata," potong Daniel dengan nada suara yang amat lembut namun penuh penekanan.Ibu jarinya menyapu sisa kebasahan di pipi Renata, mengalirkan sensasi hangat yang menenangkan gelisah wanita itu.Pria tegap itu meminta Renata dengan tegas agar berhenti memikirkan rumitnya masalah keturunan dan ancaman jabatan tersebut."Semua ancaman dari Pria Tua itu adalah urusanku, kamu tidak perlu ikut memikirkannya," tegas Daniel.Matanya menatap dalam-dalam, mengunci pandangan Renata agar tidak berpaling sedikit pun darinya.Ia menegaskan bahwa semua itu adalah urusan dan permainannya sendiri, bukan hal yang harus membebani pikiran
Terakhir Diperbarui : 2026-08-21 Baca selengkapnya