Share

Bab 90

Penulis: Leona Valeska
last update Tanggal publikasi: 2026-08-22 21:56:50

"Selamat pagi, Staf Judes favoritku!" sapa sebuah suara ramah di depan meja administrasi.

Langkah kaki santai itu terhenti tepat di depan kaunter tempat Widya sedang sibuk mengetik laporan harian.

James kembali datang dan menyapa Widya dengan senyum jahilnya yang membuat Widya kesal setengah mati.

Widya menghentikan jemarinya di atas papan ketik, mendongak tajam menatap pria tampan berbaju dokter itu.

"Bisa tidak pagi-pagi begini kamu tidak usah memancing emosiku, Dokter James?" sembur Widya ke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 90

    "Selamat pagi, Staf Judes favoritku!" sapa sebuah suara ramah di depan meja administrasi.Langkah kaki santai itu terhenti tepat di depan kaunter tempat Widya sedang sibuk mengetik laporan harian.James kembali datang dan menyapa Widya dengan senyum jahilnya yang membuat Widya kesal setengah mati.Widya menghentikan jemarinya di atas papan ketik, mendongak tajam menatap pria tampan berbaju dokter itu."Bisa tidak pagi-pagi begini kamu tidak usah memancing emosiku, Dokter James?" sembur Widya ketus."Aku ke sini cuma mau bertanya dengan sopan, kenapa kamu galak sekali?" goda James terkekeh pelan."Mau tanya apa lagi?! Jangan ganggu pekerjaanku kalau tidak ada urusan penting!" sahut Widya mendelik.Rona merah tipis mendadak muncul di pipinya akibat rasa kesal yang berbaur malu mengingat kejadian kemarin.James menyandarkan kedua sikunya di atas kaunter kayu, menatap Widya dengan binar mata jenaka."Tenang dulu, Staf Judes. Apakah Daniel sudah datang ke rumah sakit pagi ini?" tanya James

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 89

    "Daniel, bagaimana kalau rencana ini justru menghancurkan kita berdua nanti?" bisik Renata.Suara Renata bergetar halus di tengah heningnya kabin mobil yang terasa makin sempit.Melihat wajah Renata yang diliputi keraguan dan beban pikiran yang berat, Daniel mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Renata untuk menenangkan wanita itu."Hentikan pikiran burukmu itu, Renata," potong Daniel dengan nada suara yang amat lembut namun penuh penekanan.Ibu jarinya menyapu sisa kebasahan di pipi Renata, mengalirkan sensasi hangat yang menenangkan gelisah wanita itu.Pria tegap itu meminta Renata dengan tegas agar berhenti memikirkan rumitnya masalah keturunan dan ancaman jabatan tersebut."Semua ancaman dari Pria Tua itu adalah urusanku, kamu tidak perlu ikut memikirkannya," tegas Daniel.Matanya menatap dalam-dalam, mengunci pandangan Renata agar tidak berpaling sedikit pun darinya.Ia menegaskan bahwa semua itu adalah urusan dan permainannya sendiri, bukan hal yang harus membebani pikiran

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 88

    "Daniel... kamu tidak sedang bercanda, kan?" bisik Renata dengan suara bergetar.Matanya berkaca-kaca menatap pria di sampingnya, merasa dadanya mendadak dihantam rasa sesak yang luar biasa.Renata tertegun membisu mendengar penuturan itu; dadanya berdesir perih saat fakta rumit di lingkaran keluarga Gideon kembali membentang di depan matanya."Aku pernah bercanda tentang hal sepenting ini padamu, Renata?" balas Daniel balik bertanya.Tatapan matanya yang pekat mengunci wajah pucat Renata tanpa memberi celah sedikit pun untuk menghindar.Keheningan di dalam kabin mobil yang terisolasi itu makin menambah beban berat di antara mereka berdua."Lalu... apa jawabanmu pada Paman Harry?" tanya Renata dengan napas menahan tercekat.Ia meremas pinggiran pakaiannya dengan erat, mencoba memberanikan diri untuk menggali lebih dalam.Renata menatap wajah tegas Daniel dan bertanya apakah pria itu menyetujui perintah gila dari ayahnya untuk mencari surrogate mother."Menurutmu aku tipe pria yang aka

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 87

    "Daniel, bisakah kamu membantuku menaikkan sandaran kursi ini?" bisik Renata lirih.Suara Renata terdengar parau di tengah heningnya kabin mobil yang masih hangat oleh sisa-sisa gairah.Usai peraduan gairah yang melelahkan di dalam mobil, keheningan menyeruak menyelimuti keduanya."Kemari, biarkan aku yang merapikan pakaianmu dulu," sahut Daniel dengan nada suara rendah.Tangan tegapnya bergerak cekatan mengancingkan kemeja kerja Renata yang sempat terbuka berantakan.Sambil merapikan kancing kemejanya yang berantakan dan menata helai rambutnya, Renata akhirnya memberanikan diri."Sebenarnya... ada apa dengan panggilan telepon dari ayahmu tadi siang?" tanya Renata pelan.Matanya menatap lekat garis rahang Daniel yang mendadak kembali mengeras kaku saat pertanyaan itu terucap.Ia penasaran mengenai alasan di balik panggilan telepon dari ayah Daniel, Harry Gideon, yang sempat menyulut amarah pria itu sebelumnya."Pria tua itu selalu tahu cara merusak suasana hatiku," geram Daniel menaha

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 86

    "Daniel, pelankan mobilnya! Kita bisa kecelakaan kalau kamu menyetir seperti ini!" jerit Renata panik.Jarum spedometer di hadapan mereka terus merangkak naik, membelah keheningan malam yang makin pekat.Daniel menginjak pedal gas secara mendalam, membelah kegelapan malam hingga mobil beratap gelap itu melaju kencang menuju sebuah sudut jalanan yang sunyi dan terisolasi di bawah rindangnya pepohonan."Diam dan nikmati saja perjalanannya, Renata," potong Daniel dengan suara berat dan parau.Napasnya memburu tajam, diwarnai rasa cemburu dan hasrat terpendam yang siap meledak kapan saja.Tanpa mematikan mesin, Daniel menepikan mobilnya, melepas sabuk pengaman, dan langsung merengkuh tubuh Renata ke dalam pangkuannya secara dominan."D-Daniel! Apa yang kamu lakukan? Ini di dalam mobil!" seru Renata terperanjat.Namun ucapan Renata seketika teredam saat jemari tegap Daniel mencengkeram tengkuknya dengan sangat erat.Pertengkaran singkat mereka meluas menjadi lecutan gairah yang tak tertaha

  • Hangatnya Dekapan Mas Dokter   Bab 85

    "Masuk ke mobil sekarang, Renata, sebelum aku kehilangan sisa kesabaranku!" dorong Daniel tegas.Cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Renata makin ketat hingga meninggalkan bekas kemerahan.Suasana dingin malam di pinggir jalan seketika mencekam saat Daniel menarik paksa pergelangan tangan Renata dan membawanya masuk ke dalam mobil mewah milik pria itu."Dokter Daniel, tunggu dulu! Anda tidak bisa memperlakukan Renata secara kasar seperti ini!" seru Dokter Julian.Langkah kaki Julian yang sempat ragu kini terhenti tepat beberapa meter di samping mobil mewah tersebut.Dokter Julian yang terpaku menyaksikan kejadian tersebut berusaha mencegah, namun intimidasi tajam dari tatapan mata elang Daniel membuat lidah dokter muda itu membeku kaku."Sekali lagi kamu ikut campur, kariermu di rumah sakit ini selesai malam ini juga," ancam Daniel dingin.Daniel memutar kepalanya lambat, melempar tatapan membunuh yang sanggup meremukkan keberanian siapa pun.Sensasi membeku seketika melingkup

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status