Lala tak tahan lagi. Gengsinya runtuh berganti kemarahan saat Arvin bisa menghubungi orang lain, tetapi justru menghindarinya seharian penuh. Dengan gemas, Lala menekan nomor Arvin dan menunggu pria itu menjawab. “Halo?” “Kenapa kamu bisa telepon orang lain, tapi telepon aku nggak bisa?” sembur Lala cepat-cepat. “Lala? Kenapa–” “Om, kok udah pergi aja? Sinilah, Om. Kita karaokean lagi.” Lala membeku. “Vin?” “Aduh, hati-hati meluknya. Lipstikmu nempel ini.” Terdengar suara Arvin memperingatkan dengan …, anehnya, terdengar cukup lembut. Lala membeliak tak percaya. “Arvin, siapa itu? Siapa yang peluk kamu?” “La, aku tutup teleponnya. Besok aku datang ke sana.” Klik! Telepon dimatikan sepihak, bahkan tanpa mengucap sampai jumpa. Lala mematung masih dengan ponsel menempel di telinga. “Apa yang ….” Dia menelan ludah. Lala menelepon lagi. Namun, panggilannya ditolak. Mata Lala sampai nyaris meloncat keluar saking kuatnya dia melotot. Tak ada jalan lagi. Dua panggilannya kembal
Last Updated : 2026-09-10 Read more