“Dia atau aku, La?”Lala tercengang. Di tengah-tengah koridor, dia mematung. Apa suaminya baru saja menyuruhnya memilih? Apa keputusannya untuk menikah dengan pria itu masih belum cukup membuktikan pilihannya?“Lala,” geram Arvin.Pandangan Lala tertuju ke tinju Arvin yang masih terkepal. Kemudian, dia beralih menatap Arlo. Rahang lelaki itu sudah memerah. Besok pasti akan muncul lebam keunguan di sana.Lala menarik napas dalam-dalam. Dia berlutut dan membantu Arlo berdiri.“Mas Arlo,” ucapnya dingin, “ayo, ikut aku. Kuobati lukamu.”Arvin meraih lengan Lala, tetapi wanita itu menepisnya dengan cepat. Sorot mata Lala berkilat-kilat.“Pulang aja kamu, Mas,” ucap Lala dingin.“Kamu pulang sama aku.”Lala menggeleng tegas. “Aku mau sendiri.”“Kalau begitu, Arlo juga nggak boleh ikut kamu.”Lala menatap tajam. “Terus maumu apa? Mau ninju Mas Arlo lagi? Minggir, Mas. Mending kamu pulang aja. Jadi tontonan kamu di sini.”Lala memapah Arlo dengan susah payah karena tinggi badan mereka yang j
Última actualización : 2026-08-25 Leer más