“Ya, saya yang menawarkan diri untuk melunasi semua utang-utang Agnes,” jawab Daniel dengan tenang. Suara baritonnya mengalun tanpa riak, membelah keheningan ruang makan yang sejak tadi mengental dan terasa mencekik. Ia duduk dengan punggung bersandar santai, memancarkan dominasi absolut yang seolah menyedot habis sisa oksigen di sekitarnya. Mendengar pengakuan lugas itu, Agnes menunduk dalam-dalam. Pandangannya terkunci pada serat-serat kayu meja makan. Ada rasa panas yang menjalar di tengkuknya—sebuah percampuran pekat antara rasa malu yang menguliti harga dirinya hingga tandas, dan gelombang kelegaan luar biasa yang membuat otot kakinya lemas. Di seberang meja, Elvira dan Namira menatap Daniel dengan raut serius yang diselimuti kekaguman; otak mereka bekerja keras mencerna besarnya angka yang baru saja dihapuskan oleh pria ini. Sebaliknya, Felix sendiri membuang muka, mencebikkan bibir
Last Updated : 2026-09-06 Read more