Arini berdiri di samping pintu, tidak bergerak. Wajahnya pucat, matanya sayu, bibirnya pecah-pecah. Blazer abu-abu yang dia kenakan robek di bagian lengan kanan, terkena serpihan kaca saat mobil terbalik. Kemeja putihnya berlumuran debu dan sedikit darah, mungkin dari lukanya di dahi, meskipun lukanya sudah kering dan tidak mengeluarkan darah lagi. Rambutnya yang tadinya diikat kuncir rapi, kini terurai kusut, beberapa helai menempel di pipinya yang basah.Wandi menghampiri Arini. Tangannya yang besar dan kasar meraih tangan Arini yang dingin dan gemetar."Rin, duduk dulu. Kamu pasti capek."Arini tidak menjawab. Dia hanya mengangguk pelan, lalu berjalan ke sofa dengan langkah yang sedikit sempoyongan. Dia duduk di samping Noval, memeluk anak itu erat-erat. Noval membalas pelukan itu dengan lemah, tangannya yang kecil meraih leher Arini."Ma... Noval takut..." bisik Noval."Sudah, Nak. Mama di sini. Mama tidak akan pergi.""Pa... Pa juga di sini?"Wandi yang mendengar, segera mendekat
Last Updated : 2026-08-28 Read more