Tina tidak mendengar. Pikirannya masih kacau. Bayangan Wandi di pagi hari, kemeja putih, celana jins hitam, wajah glowing, tubuh kekar, bercampur dengan bayangan BMW hitam, logo BMW, kursi sopir yang dia duduki. Bayangan Arini, blazer abu-abu, rok pensil hitam, rambut kuncir tinggi, bercampur dengan bayangan Noval, anak kecil lucu dengan tas merah, yang dia lihat tadi pagi, yang ternyata adalah teman Nila."Ma! Nila minta permen kapas!"Tina tersadar. "Eh? Iya, Nak. Maaf. Mama melamun.""Mama melamun apa?""Tidak apa-apa. Nila mau permen kapas?""Iya, Ma. Di depan sekolah ada. Warnanya pink."Tina menoleh ke arah pintu gerbang. Seorang pedagang permen kapas dengan gerobak dorong sudah berjajar di pinggir jalan, bersaing dengan pedagang cilok dan batagor. Aroma gula yang dibakar tercium hingga ke taman."Ayo, Mama belikan."Tina menggendong Nila berjalan ke arah pedagang permen kapas. Di tengah jalan, dia menoleh ke arah mobil BMW hitam yang masih terparkir di pinggir jalan. Wandi masi
Last Updated : 2026-08-19 Read more