Noval mengangguk dengan mulut penuh. "Enak, Pa. Papa hebat."Arini tertawa. "Jangan bicara kalau mulut penuh, Nak."Noval mengunyah cepat, lalu menelan. "Maaf, Ma. Noval lupa.""Besok jangan lupa.""Iya, Ma."Mereka makan bersama dengan suasana hangat. Wandi mengambil sepotong telur dadar, memakannya dengan roti bakar. Arini memotong buah apel untuk Noval."Noval, makan apelnya. Biar pintar.""Noval sudah pintar, Ma.""Lebih pintar lagi."Noval mengambil potongan apel, memasukkannya ke mulut. "Manis, Ma.""Iya, apelnya bagus."Setelah sarapan, Arini mengelap mulut Noval dengan tisu. "Noval, sikat gigi dulu, ya.""Iya, Ma."Noval berlari ke kamar mandi, ditemani Wandi. Wandi mengajarkan Noval cara menyikat gigi yang benar, gerakan memutar, tidak terlalu keras, tiga menit.Setelah semua siap, mereka berkumpul di ruang tamu. Wandi mengambil kunci mobil BMW dari saku celananya, kunci dengan gantungan bergambar tengkorak, pemberian Arini dulu."Rin, Noval, ayo. Sudah jam setengah delapan."
Last Updated : 2026-08-24 Read more