Dinda mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu rumah. Ia membukanya lebar-lebar, menatap Roni dengan senyum yang hangat. "Ayo, masuk. Aku sudah terlanjur masak banyak tapi Mas Bram justru nggak pulang." Roni mengikuti Dinda masuk ke dalam rumah. Aroma masakan langsung menyambutnya, menggugah selera. Rumah Dinda selalu terasa hangat dan nyaman, berbeda dengan rumahnya yang sunyi dan sepi. Dinda menuntun Roni ke ruang makan, di mana meja sudah ditata dengan rapi. Ada nasi, ayam goreng, sayur asem, sambal, dan lalapan. Sederhana tapi terlihat menggoda. "Duduklah," kata Dinda, menunjuk kursi di hadapannya. "Aku tahu kau pasti lapar." Roni tersenyum, duduk di kursi yang ditunjuk. "Aku memang belum makan siang, Mbak. Terima kasih sudah mengajakku makan." Dinda duduk di seberangnya, menuangkan air ke dalam gelas Roni. "Kau tidak perlu berterima kasih. Ini menyenangkan, bisa makan bareng." Roni mengambil nasi, mulai menyantap makanan dengan lahap. Dinda juga makan, sesekal
Zuletzt aktualisiert : 2026-08-09 Mehr lesen