"Ningrum, ini terlalu mendadak," kata Roni akhirnya, berusaha menenangkan. "Tapi aku sudah terlanjur bilang sama ibu, Ron," potong Ningrum, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak ingin kehilanganmu. Tolong, ikutlah sekarang. Jangan membuatku kecewa." Roni menatap Ningrum, melihat ketulusan dan kerentanan di matanya. Ia tidak tega menolak. Dengan berat hati, ia mengangguk. "Baik, Ningrum. Aku ikut." Ningrum tersenyum lega, matanya berbinar. "Terima kasih, Ron. Aku akan menemanimu." Ia melangkah maju, menggenggam tangan Roni, lalu menuntunnya berjalan meninggalkan puskesmas. Roni berjalan di samping Ningrum menyusuri jalan setapak menuju rumah Bu Sri. Langkahnya terasa berat, pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Ningrum di sampingnya menggenggam tangannya erat, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sesampainya di depan rumah Bu Sri, Ningrum berhenti dan menatap Roni. "Kau siap, Ron?" Roni menghela napas, "Aku tidak tahu, Ningru
Zuletzt aktualisiert : 2026-08-15 Mehr lesen