Tania Hadiwijaya terdiam. Namun, keheningan wanita itu justru seratus kali lebih mengerikan daripada bentakan histerisnya yang baru saja mereda. Tatapannya lurus, menusuk tepat ke manik mata Timothy yang kini sudah berlutut di atas pecahan keripik cangkir teh di lantai."Berdiri," ucap Tania. Suaranya kembali tenang, teramat tenang, seperti permukaan danau purba yang menyimpan monster di dasarnya.Timothy menggeleng gemetar, air matanya menetes. "Gua minta maaf, Tania... Bram tahu semuanya. Dia tahu soal kasino, dia tahu soal proyek Theo..."Tania melangkah mendekat. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang konstan. Tuk. Tuk. Tuk. Ia berjongkok di depan adiknya, meraih dagu Timothy dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga memutih."Lu tahu kan, Tim? Dari kita kecil, siapa yang selalu beresin mainan lu yang rusak?" bisik Tania, matanya menatap Timothy dengan binar penuh kepedulihan, sebuah topeng simpati yang biasa ia gunakan untuk menjebak mangsanya. "Siapa yang
Terakhir Diperbarui : 2026-07-30 Baca selengkapnya