Bram bersandar di kursi kerjanya, menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap Jakarta. Kalimat Rendra di basemen tadi masih berputar liar di kepalanya.“Ya cukup beri saya saham lagi hingga saya punya hak mengelola Mahardika!”Bram menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Pria itu benar-benar jenuh. Ia muak dengan siklus tak berujung ini, balas dendam dari para keturunan orang-orang jahat yang pernah ia dijebloskan ke penjara. Rendra, Peter, Adrian... siapa lagi besok?"Mahardika ini kayak kena kutukan," gumam Bram pelan pada diri sendiri. "Tiap kali mau tenang, ada aja benalu yang mau ngerusak."Pintu ruang kerja terdorong pelan. Jeremy melangkah masuk membawa map tebal."Bram, Adrian udah ditangani polisi," kata Jeremy, lalu mengamati raut wajah sahabatnya. "Lo kenapa? Muka lo kayak orang abis nanggung beban dunia.""Jer," potong Bram cepat. "Gue mau bagi ulang saham Mahardika."Jeremy terperanjat. "Maksud lo apa?!""Gue capek, Jer. Gue mau lepas ke
Terakhir Diperbarui : 2026-08-21 Baca selengkapnya