Keheningan di ruang kerja Bram mendadak terasa mencekam. Di layar monitor yang baru saja ia matikan, bayangan pria bermantel panjang di depan gerbang tadi malam masih terekam jelas di benaknya. Garis wajah itu, sorot mata dingin itu… sungguh tidak mungkin salah."Sayang? Kamu kenapa?"Suara Kiana memecah keheningan. Perempuan itu berdiri di ambang pintu, memegang nampan berisi kopi hangat. Senyum manisnya perlahan memudar saat mendapati wajah suaminya pucat pasi bak mayat, dengan napas yang memburu.Bram buru-buru menguasai diri. Ia menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengulas senyum paksa yang terlihat sangat kaku."Gak... gak apa-apa, Kiana," sahut Bram, suaranya agak serak. "Cuma... sedikit pusing. Kurang tidur dari semalam."Kiana melangkah mendekat, meletakkan cangkir kopi di atas meja kayu mahogany. Tangannya yang hangat mendarat halus di dahi Bram, mengusap pelan kerutan di sana. "Makanya, jangan terlalu dipaksa. Urusan sama Rendra kan sudah selesai. Kamu janji mau li
Last Updated : 2026-08-10 Read more