Dinginnya ujung laras pistol menempel erat di kulit belakang kepala Kiana. Napasnya tertahan, sementara jantungnya berdegup begitu kencang hingga terdengar di telinganya sendiri. Di depannya, dalam kegelapan yang hanya diterangi siluet tipis lampu jalan dari luar, Bram meronta gila-gilaan."Laura, jangan! Tembak aku aja, bajingan! Jangan Kiana!" teriak Bram, suaranya pecah dan serak akibat tangis dan rasa sakit.Laura terkekeh, suara tawanya terdengar bergetar namun penuh kegilaan. "Oh, romantis sekali. Tapi sayang, Bram, penonton selalu mati lebih dulu sebelum pemeran utama pria mendapatkan hukumannya.""Kamu... Kamu nggak bakal bisa lolos, Laura," desis Kiana, mencoba menahan rasa sakit di kulit kepalanya yang tertarik akibat cengkeraman rambut oleh Laura. "Jeremy ada di luar. Dia udah habisin orang-orang kamu.""Jeremy? Si keparat itu cuma peduli sama datanya!" Laura mempererat cengkeramannya. "Begitu dia dapat apa yang dia mau, kalian berdua cuma sampah yang bakal dia buang!"Dor!
Terakhir Diperbarui : 2026-07-22 Baca selengkapnya