Perhiasan berlian, tas desainer, jam tangan mewah, sepatu elegan, hingga aksesori mahal memenuhi meja ruang tamu keluarga Mentari. Gavin Pradipta membawa semua itu ke Semarang, seolah ingin memastikan calon istrinya tidak kekurangan apa pun menjelang pernikahan mereka. Saat Mentari menghitung jumlah bingkisan di ruang tamu, CEO dingin itu justru melontarkan permintaan yang membuat kedua orang tuanya saling pandang."Kalau semua hadiah ini masih kurang untuk menebus ketidakhadiranku saat lamaran, bilang saja. Aku bisa membawakan sisanya besok."Mentari menatap tumpukan bingkisan di ruang tamu, lalu mengalihkan pandangan kepada pria berjas gelap yang duduk tegak di sofa."Pak Gavin, kamu datang ke sini mau menemui keluargaku atau membuka toko hadiah?"Gavin mengangkat wajah. Ekspresinya tetap datar, seolah pertanyaan itu membahas laporan keuangan perusahaan."Keduanya. Toko hadiah khusus untuk calon istriku."Wulandari menutup mulut, menahan tawa. Sementara itu, Hermawan menggeleng pel
Terakhir Diperbarui : 2026-10-17 Baca selengkapnya