مشاركة

Pelampiasan Andika

مؤلف: Eve Seraphine
last update تاريخ النشر: 2026-10-20 18:50:21

“Jangan bilang kau masih berhubungan dengan Felisha dan berniat menghancurkan pernikahanku!”

Andika terdiam. Gavin berdiri di ambang pintu ruang kerjanya dengan tatapan tajam. Sejak tadi, Gavin memperhatikan tingkah adiknya yang gelisah setelah mendengar kabar bahwa akad nikahnya dengan Mentari akan dipercepat.

“Kenapa kau tiba-tiba menuduhku begitu?” Andika berusaha bersikap tenang. “Aku memang baru saja menghubungi seseorang, tapi itu urusan pribadi.”

“Urusan pribadi?” Gavin melangkah mendeka
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Hari Resepsi

    “Kalau ada yang masih meragukan posisi Mentari di keluarga ini, dengarkan baik-baik. Dia bukan sekadar perempuan yang datang bersamaku malam ini. Dia istriku!”Suara Gavin terdengar jelas melalui pengeras suara. Ruangan resepsi yang semula dipenuhi percakapan mendadak hening. Semua tamu mengarahkan pandangan ke panggung, tempat Gavin berdiri dengan setelan jas hitam dan satu tangan menggenggam tangan Mentari.Mentari tersenyum tipis. Sejak memasuki ballroom, dia sudah merasakan banyak pasang mata mengamatinya. Sebagian tamu mengenalnya sebagai mantan kekasih Andika. Sebagian lagi mungkin hanya tahu bahwa perempuan yang berdiri di samping CEO Pradipta Group itu pernah bekerja di perusahaan yang sama.Gavin mengangkat tangan Mentari sedikit lebih tinggi.“Perkenalkan, ini Mentari Pradipta. Perempuan yang saya pilih untuk menjadi pendamping hidup saya.”Tepuk tangan memenuhi ruangan. Mentari menoleh kepada suaminya. Senyum Gavin terlihat tenang, tetapi ibu jarinya terus mengusap punggung

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   CEO Galak Gagal Fokus

    “Mas, kalau cuma diminta menatap istrinya sendiri, kenapa wajah CEO Pradipta Group malah kelihatan gugup?”Gavin menatap Mentari yang berdiri di hadapannya. Perempuan itu mengenakan gaun putih sederhana dengan rambut tertata rapi. Sejak sesi pemotretan dimulai, Gavin memang sulit mengalihkan pandangan darinya.“Siapa yang gugup?” jawab Gavin datar.Mentari tersenyum jahil. “Mas. Dari tadi fotografer sudah tiga kali meminta Mas melihat kamera.”“Aku sedang melihat kamu.”“Justru itu masalahnya. Ini foto prewedding, bukan sesi menatap istri seharian.”Fotografer yang berdiri beberapa meter dari mereka menahan senyum. Ia kembali mengangkat kamera dan mencoba mengarahkan posisi pasangan tersebut.“Pak Gavin, boleh melihat ke arah kamera sebentar?”Gavin mengalihkan pandangan. Namun, begitu Mentari tersenyum kepadanya, matanya kembali tertuju pada sang istri.“Sepertinya Bapak benar-benar sulit fokus,” goda fotografer.“Lanjutkan saja pekerjaannya,” jawab Gavin.Mentari tertawa kecil. Ia t

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Gavin Penuh Persiapan

    “Mas, kita mau foto prewedding atau membuat album bukti kalau aku sudah resmi menjadi milik Mas?”Gavin mengangkat wajah dari katalog dekorasi yang sedang diperiksanya. Mentari duduk di sebelahnya sambil menahan tawa. Sejak mereka bertemu wedding organizer pagi itu, Gavin terus ikut campur dalam setiap keputusan.“Apa salahnya memastikan semua orang tahu kamu istriku?”“Enggak salah. Tapi Mas sudah memilih dekorasi, bunga, warna meja, bahkan bentuk undangan.”“Karena pilihannya kurang sesuai.”Mentari menunjuk salah satu halaman katalog. “Yang ini bagus. Dekorasinya sederhana, warnanya lembut.”Gavin melirik gambar tersebut. “Terlalu sederhana.”“Mas, kita mau resepsi, bukan mengadakan pesta kenegaraan.”“Aku ingin semuanya terlihat pantas untuk istriku.”Mentari tersenyum. “Kalau begitu, biar aku yang memilih. Mas cukup duduk manis.”Gavin menatapnya datar. “Aku tidak bisa duduk manis.”“Memangnya kenapa?”“Karena aku ingin memastikan kamu mendapatkan yang terbaik.”Mentari tertawa k

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Rencana Yang Tertunda

    “Kalau kamu mau pergi, bilang kepadaku. Jangan sampai aku harus mencari istriku sendiri di tengah keramaian.”Mentari menoleh ke arah Gavin yang berdiri di samping troli belanja. Sejak tadi, lelaki itu terus mengikutinya dari satu lorong ke lorong lain. Bahkan, Gavin sudah membatalkan beberapa jadwal rapat agar bisa menemani istrinya berbelanja.“Mas, aku cuma mau beli beberapa kebutuhan rumah. Bukan mau menghilang,” jawab Mentari sambil tersenyum geli.“Aku tahu.”“Lalu kenapa dari tadi Mas mengikuti aku terus?”“Karena aku suamimu.”Mentari menggeleng kecil. Ia kembali memilih beberapa barang, sementara Gavin mendorong troli di belakangnya.Saat melewati lorong perlengkapan rumah tangga, seseorang menyapa Mentari.“Mentari?”Mentari menoleh. Wajahnya langsung menunjukkan keterkejutan.“Revan? Astaga, sudah lama sekali!”Seorang lelaki seusianya tersenyum lebar. Mereka kemudian berbincang tentang masa kuliah dan beberapa teman lama yang sudah jarang ditemui.Gavin berdiri di samping

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Merindukanmu

    “Mas, kenapa hari ini pulangnya cepat sekali?”Mentari menoleh dari sofa ruang keluarga ketika Gavin masuk ke rumah. Perempuan itu sempat melirik jam dinding. Belum pukul lima sore, padahal pagi tadi suaminya mengatakan akan menghadiri rapat sampai malam.Gavin meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu melonggarkan dasi.“Aku bosnya. Aku bebas menentukan jam pulang.”Mentari mengangguk kecil. “Bukannya tadi pagi Mas bilang ada rapat sampai malam?”“Rapatnya selesai.”“Katanya masih ada tiga agenda?”“Dibatalkan.”“Semuanya?”Gavin menoleh. Tatapannya yang biasanya membuat para karyawan buru-buru memeriksa kesalahan mereka kini justru membuat Mentari semakin penasaran.“Mentari, kamu sedang menginterogasiku?”Mentari menggeleng polos.“Enggak. Aku cuma penasaran.” Dia memiringkan kepala, lalu tersenyum jahil. “Apa Mas kangen sama aku?”Gavin terdiam.Hanya sesaat, tetapi cukup bagi Mentari untuk menangkap perubahan ekspresi suaminya.“Jangan terlalu percaya diri,” jawab Gavin akhirnya

  • Hey, Calon Ipar. Ayo Kita Nikah!   Teguran Sang CEO

    “Mas, kalau Mas terlambat masuk kantor gara-gara gak mau melepaskan pelukan ini, siapa yang harus bertanggung jawab?”“Perusahaan itu milikku. Aku yang menentukan kapan harus datang.”Mentari mendongak, menatap Gavin yang masih merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan. Sejak tadi, lelaki itu sama sekali gak menunjukkan tanda-tanda ingin bangun, padahal pagi sudah semakin larut.“Kalau begitu, aku mandi duluan.”“Lima menit lagi.”“Mas sudah bilang begitu tiga kali.”“Berarti kau tahu aku masih butuh lima menit.”Mentari menahan tawa. Gavin memang bisa bersikap dingin kepada seluruh dunia, tetapi ketika berdua dengannya, lelaki itu sering bertingkah seperti anak kecil yang enggan ditinggal.“Kalau Mas terus begini, kita bisa terlambat.”“Ya sudah, kita mandi sekarang.”Gavin akhirnya melepaskan pelukannya, tetapi hanya untuk menggenggam tangan Mentari dan mengajaknya ke kamar mandi.“Mas, aku bisa mandi sendiri.”“Aku tahu.”“Terus, kenapa harus bareng?”“Karena aku mau.”Jawaban datar itu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status