Hening memeluk kami selama beberapa detik. Aku perlahan melihat kedalam manik mata Arka. Tatapannya begitu intens hingga sanggup menahan napas dan detak jantungku di udara. Aku terpaku, Pernyataannya membuat jantungku berdegup keras. Desiran asing yang amat hangat mendadak membuai dadaku. Jarak di antara kami serasa kian menipis, menyisakan tatapan Arka yang mengunci seluruh duniaku hari itu. Arka perlahan menurunkan ponselnya, tetapi jarak di antara kami sama sekali tidak merenggang. “Arka, aku rasa…” suaraku tercekat, mengambang di antara hembusan angin.“Aku serius, Lyra,” potong Arka pelan, suaranya tetap rendah dan mantap. “Bukan cuma soal parasmu di foto ini, tapi tawa dan caramu menatap anak-anak itu tadi. Kamu memberi jiwa pada tempat ini.”Desiran di dadaku makin hebat. Aku menunduk dalam-dalam, mencoba menstabilkan semua yang terjadi pada diriku. “Kak Lyra! Ayo main lagi!”Panggilan nyaring dari seorang anak laki-laki tunanetra tiba-tiba memecahkan suasana di antara kami.
Last Updated : 2026-07-19 Read more