Pagi itu matahari bersinar cerah. Arumi sedang menjemur pakaian di halaman belakang, menggantung pakaian satu per satu dengan hati-hati. Angin pagi berhembus pelan, membuat kain-kain itu berkibar seperti bendera.Oren duduk di dekat kakinya, mengawasi dengan mata malas.“Kamu jangan main-main, Oren,” kata Arumi sambil tersenyum. “Nanti bajunya kotor lagi.”Oren mengeong pelan, seolah protes.Tiba-tiba, langkah kaki terdengar dari pintu belakang. Arumi menoleh. Wati datang sendirian, tanpa Sumirah.“Selamat pagi, Bu Wati,” sapa Arumi ramah. “Kok sendirian, Bu? Mbak Sumirah tidak datang?”Wati menghela napas. “Sumirah sedang sakit, Mbak Arumi. Demam. Semalaman tidak bisa tidur.”Arumi mengangguk-angguk, ekspresinya berubah lembut penuh simpati. “Oh ya? Semoga lekas sembuh ya, Bu. Kalau bagitu, nanti saya titip makanan untuk Mbak Sumirah.”“Tidak usah, Mbak Arumi. Terima kasi
Última atualização : 2026-07-31 Ler mais