“Aku ingin mempercayaimu, Ken…” Pintu kamar tertutup rapat. Alsava berdiri beberapa detik di baliknya, mencoba mengatur napas yang masih berantakan. Tangannya mengepal, ucapan Ken terus terngiang di kepalanya. ‘Demi kehidupanmu, aku tidak pernah terlibat apa pun selain akuisisi.’ Alsava mengusap air matanya kasar. “Aku takut dengan bukti yang kupunya, apalagi seakan mengarah ke kamu.” Suaranya nyaris tak terdengar. “Tapi bagaimana caranya?” Dia berjalan menuju kamar lain, kamarnya dulu. Saat pertama datang ke mansion ini. Malam ini, Alsava tidak ingin kembali ke kamar yang sama dengan Ken. Bukan karena dia membenci pria itu, Justru karena terlalu banyak bagian dari dirinya yang masih ingin mempercayainya. Alsava menyalakan laptop. Flashdisk hitam milik Davin kembali terpasang. Satu demi satu dokumen terbuka. Nama Cavan Mallory, D'CAKRA GROUP, dan nama Marveen. Lalu beberapa dokumen pengalihan aset. Alsava membaca semuanya dengan lebih teliti. Tidak ada satu pun dokumen yang s
Terakhir Diperbarui : 2026-09-07 Baca selengkapnya