Di lantai atas markas, Marveen duduk sendirian di ruang pribadinya. Sebatang cerutu menyala di tangannya, dan segelas anggur tergeletak setengah penuh di atas meja."Dorry bisa diandalkan," gumamnya. "Ken juga ternyata lebih berguna dari dugaanku."Ia tertawa kecil. Di luar pintu, koridor yang biasanya dipenuhi penjaga terasa terlalu sunyi, tetapi Marveen tidak menyadarinya. Pikirannya sibuk menghitung keuntungan dari pengiriman malam ini.Gagang pintu bergerak pelan."Dorry?" Marveen tidak menoleh. "Sudah kubilang, jangan ganggu aku sampai...""Bukan Dorry."Suara itu perempuan, tenang dan dingin.Marveen membeku. Cerutunya berhenti di udara. Perlahan ia memutar kursi. Alsava berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, Davin menutup jalan keluar dan Adrian melangkah masuk sambil membawa map di tangan."Selamat malam, Tuan Marveen," sapa Alsava santai. "Masih ingat siapa aku bukan?"Cerutu itu jatuh ke atas karpet. Marveen kaget, tapi dia segera kembali tenang. Kali ini, wajahnya tidak b
Last Updated : 2026-10-10 Read more