Tiga hari berlalu begitu cepat, namun bagi Alika, rasanya seperti tiga tahun penuh penantian yang panjang. Setiap malam matanya terjaga, menatap langit-langit kamar sambil mengusap punggung kecil Arka yang tidur pulas di sampingnya. Napas anak itu teratur dan hangat, dan setiap kali mendengarnya, hati Alika terasa bergetar,syukur yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Anaknya kembali. Aman. Di pelukannya. Pagi itu, langit di atas gedung pengadilan negeri tampak cerah sekali. Sinar matahari menyelinap di antara celah awan, seolah turut menyambut hari yang ditunggu-tunggu itu. Alika mengenakan pakaian sederhana namun rapi, kemeja berwarna krem yang menenangkan hati. Di sebelahnya, Arkana berjalan tegap, satu tangannya tak pernah lepas menggenggam tangan kecil Arka, sementara tangannya yang lain sesekali menepuk pelan punggung Alika, seolah memberi kekuatan tanpa perlu mengucap sepatah kata pun. "Ma, kita mau ke mana ya?Kok tumben sekali kita pa
Last Updated : 2026-09-04 Read more