Suasana di lorong rumah sakit terasa dingin dan menyesakkan. Deru napas Alika terputus-putus, dadanya sesak bukan main. Sejak tadi ia mondar-mandir kecil di depan ruang gawat darurat, matanya tak lepas dari pintu tertutup itu. Di dalam sana, nyawa buah hatinya, Arka, sedang bertarung melawan waktu. Dokter sudah memperingatkan dengan tegas kalau anak itu butuh transfusi darah secepatnya, dan golongan darah yang dibutuhkan sangatlah langka. Alika sudah putus asa. Ia sendiri sudah diperiksa, namun tidak cocok. Begitu juga dengan Satria, hasilnya tetap sama. Tak ada pilihan lain. Hanya satu nama yang terngiang di kepalanya, satu-satunya harapan yang tersisa, meski mengucapkannya saja terasa seperti mengoyak hatinya sendiri. Dengan tangan gemetar hebat, jari-jemarinya dingin hingga ke tulang, Alika merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponsel. Benda itu terasa seberat batu di genggamannya. Ia menatap layar yang menyala, menatap nama yang tersimpan di sa
Last Updated : 2026-08-04 Read more