Di ruang kerja Direktur yang luas itu, Alika masih duduk diam di kursi tamu, kedua tangannya saling meremas gelisah di pangkuan. Matanya tak lepas dari layar ponsel yang mati, seolah berharap ada pesan atau panggilan masuk yang memberitakan kabar putranya. Sementara itu, Rendra kembali sibuk memantau layar komputer satu per satu wajahnya serius, jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, memeriksa setiap titik di peta, setiap rekaman kamera lalu lintas, setiap laporan dari tim pelacak yang tersebar di lapangan. Sesekali ia melirik ke arah wanita itu dari sudut matanya. Melihat betapa tegarnya Alika berusaha menahan tangis, melihat bagaimana ia tetap duduk tenang meski hatinya pasti hancur lebur, melihat kecerdasannya yang terpancar bahkan di saat paling gelap sekalipun Rendra menghela napas pelan tanpa sadar. Ia tahu betul siapa dirinya: hanya asisten muda, tiga tahun lebih muda dari Alika, dan posisinya jelas harus tahu batas, harus menjaga jarak, h
Last Updated : 2026-08-29 Read more